Wednesday, 26 June 2019

Ketupat Lebaran

Kamis, 13 Juni 2019 — 5:02 WIB

Oleh Harmoko

KETUPAT atau kupat identik dengan Hari Raya Idul Fitri. Ini sering ditandai adanya gambar ketupat ketika mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri sehingga muncul istilah ketupat lebaran. Bahkan, di Jawa dikenal istilah “bakdo kupat”. Hari Raya ketupat ini berlangsung sepekan atau pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri.

Sejumlah literatur menyebutkan “bakdo kupat” pertama kali diperkenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai bagian dari strategi syiar agama Islam di tanah Jawa kala itu.
Pilihan hari ketujuh bukannya tanpa alasan. Agama Islam menganjurkan kita untuk berpuasa sunah selama 6 hari di bulan Syawal. Jika memulai sehari setelah Idul Fitri, maka di hari ketujuh Syawal selesai – disebut bakda (lebaran) dengan simbol masak ketupat – kemudian dikenal dengan nama “bakdo ketupat” hingga saat ini.

Ketupat tentu tidak sebatas makanan khas yang terbuat dari bahan baku beras yang dibungkus dengan anyaman janur (daun kelapa muda).
Kita tahu, para wali menyebarkan agama dengan memadukan unsur budaya lokal agar mudah dicerna, dipahami dan diterima kemudian diamalkan masyarakat setempat.

Hasilnya, pada hari yang disebut “bakdo ketupat” di Jawa, warga menganyam ketupat dari daun kelapa muda.
Setelah ketupat matang dan siap dihidangkan dengan lauk pauknya, bukan untuk dimakan sekeluarga, tetapi diantar ke tetangga sehingga hari itu terjadi antar ketupat. Cara mengantar pun ada etika dan tata kramanya. Hidangan ketupat diantar terlebih dahulu kepada keluarga (orang) yang lebih tua. Ini sebagai bentuk penghargaan (menghormati) orang yang lebih tua. Sebaliknya, keluarga yang lebih tua akan mengirim ketupatnya kepada yang lebih muda sebagai balasan yang menandakan kasih sayang orang tua kepada ‘anak- anaknya’.
Ini sejatinya ajaran agama yang  dikemas dalam budaya, sering disebut kearifan lokal, dalam membangun hubungan antar- manusia ( hablum minannas ). Di dalamnya diajarkan perilaku saling menghormati, berbagi, dan saling peduli antar- sesama.
Tidak itu saja, tapi juga ada upaya membangun ikatan sosial, kekerabatan, kebersamaan sebagai bagian dari memantapkan kesatuan dan persatuan bangsa dengan tetap mengacu kepada etika dan tata krama – dalam arti luas taat asas dan norma.

Ketupat sendiri dalam filosofi Jawa memiliki makna khusus. Kupat kependekan dari ngaKu lePat (mengakui kesalahan) bukan hanya kepada Allah SWT, tapi juga dengan sesama manusia.
Tradisi sungkeman (bersimpuh di hadapan orangtua seraya memohon ampun) merupakan implementasi ngaku lepat.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khususnya orangtua.

Kupat yang terbuat dari butiran beras yang dibungkus dalam janur adalah simbol kebersamaan dan kemakmuran. Sedangkan janur, ada yang mengartikan sejatine nur (cahaya). Dapat ditafsirkan keadaan suci manusia setelah mendapat gemblengan selama Ramadan.
Rumitnya anyaman janur  menyimbolkan begitu beragam kesalahan manusia. Anyaman janur dapat dimaknai juga memberikan energi, penguatan satu sama lain antara jasmani dan rohani, akal dan pikiran.
Warna putih ketupat setelah dibelah melambangkan kebersihan setelah bermaaf- maafan.
Bentuk ketupat yang begitu sempurna, ada kepal bersudut 7 (lebih umum) dan jajaran genjang bersudut 6. Konon, masing- masing memberikan makna dan simbol bagi kehidupan kita, tentu saja mengajarkan adab dan kebaikan. Setidaknya bisa dihubungkan sebagai kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya sampailah ke Idul Fitri.

Itulah filosofi “bakdo ketupat” bagi kehidupan kita yang penuh simbol dan makna menuju kebaikan dan peradaban sesuai dengan norma agama, norma sosial dan norma hukum.
Banyak makanan khas yang menggunakan ketupat seperti kupat tahu, kupat grabag, kupat glabet, katupat kandangan dan masih banyak lagi.
Tapi satu hal, ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan seperti opor ayam. Tak heran jika ada pantun Jawa yang disebut “Kupa Santen“, _ kulo lepat nyuwun ngapunten (Saya salah mohon maaf). (*).