Monday, 22 July 2019

Saksi pihak Prabowo-Sandi Disebut Terancam, TKN: Omong Kosong

Minggu, 16 Juni 2019 — 11:40 WIB
Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia  (PSI) Raja Juli Antoni. (ikbal)

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni. (ikbal)

JAKARTA –  Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo – Ma’ruf Amin menilai tim hukum Prabowo Subianto – Sandiaga Uno tengah membangun narasi melalui isu ancaman keselamatan para saksi.

Wakil Sekretaris  TKN, Raja Juli Antoni menganggap isu itu hanya isapan jempol.

Toni mengatakan dalam alam demokrasi saat ini tidak ada tindakan kekerasan dan intimidasi seperti pada zaman orde baru.

“Sekarang mereka sedang membangun narasi bahwa mereka punya banyak saksi yang wow dan terancam keselamatan mereka. Ini omong kosong saja. Kita hidup di negara demokratis. Hampir tidak ada penculikan, tindak kekerasan, intimidasi dsb seperti yang terjadi pada masa mertua Pak Prabowo memimpin negeri ini,” katanya kepada wartawan, Minggu (16/6/2019).

Sebelumnya pada Sabtu (15/6/2019), tim hukum Prabowo-Sandi mendatangi kantor   Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Mereka berkonsultasi terkait degan jaminan keselamatan para saksi an ahli dari kubu Prabowo – Sandi yang akan didatangkan pada sidang gugatan sengketa Pilpres 2019.

Disebut tim hukum pasangan calon (paslon) 02, para saksi meminta jaminan keamanan. Para saksi tersebut khawatir akan keselamatan mereka.

Sementara itu  LPSK tidak bisa mengabulkan permintaan tim hukum  Prabowo – Sandi. Pasalnya dalam ketentuan undang-undang, LPSK hanya berwenang melindungi saksi dalam kasus pidana.

Meski demikian Toni mendorong agar LPSK tetap memberikan perlindungan kepada saksi yang akan dihadirkan pihak Prabowo-Sandi.

“Kami mendorong LPSK menjalankan amanah konstitusional mereka untuk melindungi saksi kalau memang diperlukan, agar jangan sampai tim hukum 02 kembali membangun imaginasi bahwa LPSK tidak netral atau malah mendukung 01,” tandasnya.

“Persepsi ini yang secara konsiten dari dulu dijual oleh BPN, Prabowo kalah karena dicurangi. Padahal memang kalah saja,” tutup Sekjen Partai Solidaritas Indonesia ini. (ikbal/tri)