Saturday, 20 July 2019

Tewas Diclurit di Ranjang Gara-gara menjadi Subita

Minggu, 16 Juni 2019 — 4:53 WIB
NID-16

KASIHAN sungguh nasib Syahrul, 40, dari Banjarmasin (Kalsel) ini. Sekali jadi lelaki subita (suka bini tetangga), harus mati di ujung clurit. Pas menggauli Ny. Syahrina, 25, bini tetangga, eh suaminya memergoki. Kontan Syahrul yang sedang “nangkring” dipentung dan disabet clurit. Ya matilah dia, dan Muhid, 45, melapor ke polisi setelah eksekusi.

Bini tetangga yang cantik, tak ubahnya rumput hijau nan ranum di halaman rumah orang. Pakar lain mengibaratkan ikan hias yang hanya boleh dilihat-lihat, tak boleh menggorengnya. Padahal jika benar-benar bisa menggorengnya, rasanya lezat juga, gurih dan keriuk-keriuk. Dalam pergaulan antar tetangga, sering muncul tantangan seperti itu. Tinggal masalahnya: kuwat mana antara si iman dan “si imin”.

Syahrul warga Ulin Barat, Lianganggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sebetulnya di rumah sudah punya istri juga. Tapi belakangan melihat Ny. Syahrina istri tetangganya yang sekel nan cemekel, nampak nepsong banget. Otaknya langsung ngeres, membayangkan yang mboten-mboten. Begitu melihat ke bawah, eh…..ukuran celananya mendadak berubah dari M langsung ke XL.

Setan kebetulan membaca hati gundah Syahrul. Serta merta dikomporinya. Kata setan, lelaki demen sama bini tetangga itu sudah jamak, itu kan bagian dari diserfikasi menu. Masak tiap hari pakai sayur lodeh melulu, sekali-sekali boleh dong pakai opor ayam atau gudeg Adem Ayem Solo. Syarul disemangati, jangan mudah menyerah. “Kalau ente serius, satu putaran pasti kena Bleh…..” kata setan meyakinkan.

Bagi setan, Pilkada atau menaklukkan bini tetangga, pada hakekatnya sama, semua bicara soal coblosan. Bedanya adalah, pilkada nyoblos dulu baru ketahuan siapa pemenangnya. Sedangan menaklukkan bini tetangga, menang dulu baru nyoblos! Ada lagi perbedaannya. Pilkada diselenggarakan oleh KPU daerah, sedangkan selingkuhi bini tetangga di luar tanggungjawab KUA.

Begitulah, atas dorongan setan Syahrul mulai mendekati Syahrina. Peluangnya demikian luas, karena Muhid suaminya bekerja sebagai sopir truk yang sering kirim barang keluar kota sampai berhari-hari. Dengan sendirinya Syahrina memang sering kesepian. Maka kehadiran Syahrul bagi Syahrina bagaikan orang ngantuk disorong bantal, orang haus disodori es sirup. Maka benar kata setan, satu putaran langsung kena! Syahrul bersama Syahrina sukses mengumbar syahwat.

Sejak itu kehidupan Syahrul tambah ceria. Tanpa harus poligami dengan kawin siri, dia sudah punya istri dua. Ibarat gamelannya orang Jawa, kini Syahrul punya rong pangkon (dua set). Yang satu laras (nada) slendro dari besi, yang satunya lagi pelog dari perunggu. Otomatis yang pelog dan baru lebih sering dithuthuk (ditabuh).

Seperti biasanya, asal suaminya kirim barang berhari-hari keluar kota, Syahrina sengaja mengundang Syahrul ke kamarnya. Cuma kali ini sial banget,perhitungannya meleset total, karena tak bisa dimonitor lewat GPS di HP. Saat keduanya bergulat antara hidup dan mati tengah malam dinihari, tahu-tahu Muhid pulang lebih cepat. Tanpa ketok pintu lagi, sehingga akhirnya dia melihat dengan mata kepala sendiri, betapa istrinya diengkuk-engkuk (digumuli) oleh lelaki tetangganya yang subita.

Langsung saja dia ambil clurit dan pentungan sekaligus, untuk menghabisi perusuh rumahtangganya. Syahrul yang sedang keasyikan itu langsung dikemplang kepalanya pakai pentungan kaso 5-7, kamper borneo lagi. Langsung dia melorot dari tubuh Syahrina. Muhid yang kesetanan menambah lagi dengan bacokan clurit ke tubuh Syahrul yang bugil tanpa selembar benangpun.

Syarina sendiri begitu tahu suaminya ngamuk langsung kabur masuk hutan, sementara Muhid menyerahkan diri ke Polres Banjarbaru. Dia ceritakan semua kejadian yang baru dilakukannya sambil menyerahkan clurit berdarah. “Siapa nggak kalap Pak, istri yang tiap tahun saya fitrahi kok dikangkangi orang lain.” Ujar Muhid dengan napas terputus-putus.

Sudah, sudah, minum air putih dulu biar adem. (Gunarso TS)