Monday, 22 July 2019

Andaikan Napi Kasus Korupsi Dikandangi di Pulau Terpencil

Rabu, 19 Juni 2019 — 7:45 WIB
lapas-pulau

BERTOLAK dari kebengalan terpidana Setya Novanto, pemerintah kata Menko Polhukam Wiranto berencana membangun lapas di pulau terpencil, untuk mengandangi napi koruptor, teroris dan narkoba. Ini paralel dengan pendapat Budi Waseso saat jadi Kepala BNN, terpidana narkotika ditaruh pada Lapas yang dikelilingi danau untuk beternak buaya!

Kenapa Setnov harus disebut bengal? Soalnya sudah banyak terpidana korupsi yang “diisolasi” gara-gara keluyuran di luar LP, kok dia masih nekat ikut-ikutan juga. Akibatnya tahu sendiri, sekarang dia dipindahkan ke Lapas Gunung Sindur Bogor, yang penjagaannya ekstra ketat.

Jika sudah jadi napi, kebebasan memang terasa sangat mahal. Maka orang berusaha memperoleh kebebasan itu apapun caranya. Oleh karena itu Setnov tidak sendiri, banyak napi koruptor yang mencoba keluyuran di luar. Dipelopori oleh Gayus Tambunan yang plesiran ke Bali (2010), napi-napi korupsi lain ikutan jadi penerusnya.

Misalnya, Romi Herton eks Walikota Palembang (2016), Rachmat Yasin eks Bupati Bogor (2016), Anggoro Wijoyo dalam kasus proyek sistem komunikasi radio terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan (2016). Selebihnya yang bikin heboh di penghujung tahun 2018, Fuad Amin eks Bupati Bangkalan, Tubagus Wawan suami Walikota Tangsel dan Fahmi Darmawansyah suami artis Inneke Kusherawati.

Gara-gara ulah Setnov, Menko Polhukam Wiranto kemarin mengatakan, pemerintah ada pemikiran membangun Lapas di pulau terpencil. Napi koruptor, napi narkoba dan napi teroris akan dikandangi di situ. Asyikkk itu! Biar mirip penjara Alcatraz di AS, Lapas itu bisa dibangun di Kep. Natuna dekat Malaysia sana. Biarlah para napi itu bersahabat dengan ikan hiu. Berani kabur langsung diterkamnya untuk sarapan pagi.

Jika mau lebih hemat, bisa mengadopsi gagasan Budi Waseso saat menjadi Kepala BNN. Para napi narkotika dikurung di pulau buatan di tengah danau –misalnya waduk Jatiluhur atau waduk Gajahmungkur–tapi danau itu dijadikan peternakan buaya. Berani kabur dari Lapas, resikonya bisa disisil (dicaplok) si napi punya “terpedo”.

Tapi sepertinya gagasan Lapas napi di pulau terpencil tak disetujui Menkumham Yasona Laolly. Soalnya, KPK minta napi koruptor dikirim ke Nusakambangan saja dia tidak setuju dengan alasan napi korupsi bukan super-maximum security, sebagaimana teroris. Tapi Lapas di pulau terpencil itu kan dibangun di era Jokowi periode ke-II nanti. Di periode itu apakah Yasona Laolly masih Menkumham? – gunarso ts