Tuesday, 23 July 2019

Endi Aras Lestarikan Gasing Nusantara

Kamis, 20 Juni 2019 — 1:59 WIB
Endi Aras Riyono dengan gasing koleksinya (dms)

Endi Aras Riyono dengan gasing koleksinya (dms)

PERMAINAN gasing merupakan permainan paling populer di Nusantara. Hampir semua provinsi di Tanah Air mempunyai gasing, sebagai salah satu permainan daerahnya, dengan nama yang berbeda beda – bahkan beda kabupaten beda gasingnya.

Temuan itulah yang mendorong Endi Aras Agus Riyono, 56, melestarikannya selama 14 tahun terakhir dan menjadikannya sebagai “Bapak Gasing Nusantara”

Sudah lebih dari satu dekade Endi mencari dan mengumpulkan dan mengamati gasing, dia mengaku belajar banyak tentang mainan tradisional ini, termasuk tentang nilai filosofisnya.

“Gasing bisa muter lama, karena dia seimbang. Sama dengan kehidupan manusia, kalau hidup manusia seimbang, itu hidupnya akan lama. Artinya kebutuhan jasmani, kebutuhan rohani, keadaan jasmani, keadaan rohani seimbang, itu bisa gak gampang sakit, terus semangat,” paparnya, sambil senyum.

Eddy Riyono alias Endi Aras sebelumnya dikenal sebagai wartawan majalah ‘Film’, grup ‘Pos Kota’, namun kemudian terjun ke penyelenggara acara alias ‘event organizer’.

Tahun 2005 lalu menyelengarakan Festival Gasing Nusantara bersama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (sekarang Budaya dan Perekonomian Kreatif), dan sejak itu pria asal Salatiga ini fokus mengamati, mengoleksi dan melakukan berbagai kegiatan yang menuju pada pelestarian gasing.

“Saya melestarikan semua permainan anak anak Nusantara, tapi memang gasing paling unik. Karena di semua provinsi, di semua daerah di Indonesia ada gasing, “ ungkapnya dalam obrolan dengan ‘Pos Kota’ semalam.

SANGAT BERAGAM

Menurutnya, di Indonesia gasing sangat beragam jenisnya. “Di Ambon, Manado itu bahkan bisa lebih dari 30 jenis. Di Jawa Tengah misalnya di Demak itu beda dengan di Pati, beda lagi dengan yang di Jepara,” ujar pria yang lahir di Blora, tapi besar di Salatiga, Jawa Tengah ini.

Meski demikian, gasing juga permainan tradisional yang sudah mulai jarang ditemui untuk dimainkan anak-anak Indonesia. Beberapa budayawan bahkan menganggap bahwa gasing tradisional Indonesia sudah diambang kepunahannya bila tidak dilestarikan dan perlu untuk kembali dikenalkan pada masyarakat.

Semangat melestarikan gasing inilah yang kemudian mendorong Endi untuk mengoleksi setiap gasing tradisional yang ada di berbagai tempat di nusantara ke dalam koleksinya. Tak sekadar mengumpulkan, Endi ternyata juga menggali sejarah, filosofi, dan cara bermain gasing tradisional yang makin lama makin terlupakan.

Endi menceritakan tentang koleksi gasing miliknya yang jumlahnya sudah mencapai ratusan buah. Bila berkunjung ke rumahnya, anda akan menemukan gasing-gasing koleksinya disejajarkan secara rapi teratur, lengkap dengan penjelasan tentang asal muasalnya, materi, dan cara memainkannya. “Yang terberat 5 Kg. Ada gasing 400 Kg tapi di museum anak di Taman Mini, “ katanya

Berkat gasing, pria kelahiran Blora, 26 Agustus 1963 ini diundang ke Festival of ASEAN Cultural Expressions, Brunei (2014), Jambore Pramuka Dunia, Jepang (2015), Pameraan Gasing di Indonesia Weekend, London (2016), dan Olimpiade Olahraga Tradisional Dunia, Tafisa World, Jakarta (2016). Dia juga mengelilingi semua provinsi Nusantara.

Alumni Universitas Satya Wacana, jurusan Psikologi Pendidikan, Salatiga ini terobsesi untuk mendirikan museum gasing. Dia sudah menyiapkan tanahnya seluas 4.000 m persegi di kampung halamannya, di Salatiga.

Endi merasa, eksistensi gasing bisa terancam bila tidak dilestaikan. “Wah ini gawat kalau didiemin. Bisa abis ini,” ujarnya. Dari kekhawatirannya itu, timbul niat jahil untuk membeli beberapa gasing daerah yang menurutnya unik.

Dia mengaku koleksi gasingnya belum lengkap, meski sudah memiliki ratusan. Beberapa gasing masih belum dia miliki terutama yang berasal dari wilayah Indonesia timur. – dimas.