Monday, 16 September 2019

Lantaran PPDB Sistem Zonasi Bikin Ortu “Ronda” di Sekolah

Kamis, 20 Juni 2019 — 8:10 WIB
dattar-sekolah

SKTM sebagai syarat peneriman murid baru, telah dihapus. Sekarang ditonjolkan sistem zonasinya. Murid diterima ke SMP dan SMA bukan berdasarkan nilai, tapi kedekatan atau jarak dengan sekolah. Tujuan pemerintah untuk menghapus sekolah favorit, tapi yang terjadi justru para ortu (orangtua) rela “ronda” sekolah agar bisa diterima lebih awal.

Sekolah favorit setiap musim PPDB atau Pendaftaran Peserta Didik Baru, bukan Petugas Penyuluhan Demam Berdarah; selalu kebanjiran murid. Paling kasihan sekolah swasta, yang tidak favorit hanya jadi penampungan murid “ampas”, yakni di sana-sini tidak diterima.

Kemendikbud mencoba “memerangi” sekolah negeri favorit dengan sistem zonasi. Penerimaan murid bukan berdasarkan nilai, tapi kedekatan jarak dengan sekolah. Dului untuk menjamin diterimanya murid baru, cukup dengan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Ternyata di mana-mana disalahgunakan. Orang kaya masukkan anaknya pakai SKTM. Akhirnya SKTM dihapuskan.

Orang Indonesia memang terkenal banyak akalnya. Sistem Zonasi yang sebetulnya sudah diterapkan sejak tahun 2017, kini jadi populer seiring dengan tewasnya SKTM. Nah, demi putra-putrinya bisa masuk sekolah favorit, pada musim PPDB sekarang ini banyak ortu yang rela “ronda” alias menginap di sekolah. Targetnya, dengan antri sejak pagi tentunya peluang anaknya diterima menjadi lebih besar.

Padahal alokasi untuk sistem zonasi ini cukup besar, hingga 90 persen. Sisanya 5 persen untuk murid berprestasi dan 5 persen lagi prioritas untuk murid pindahan. Padahal tanpa mengantri pun, karena pendaftaran sistem online, jauh sedikit asal nilainya bagus juga masuk prioritas.

Meski maksud pemerintah baik, tak semua rakyat menyetujui. Di Surabaya kemarin ratusan ortu unjukrasa, minta Gubernur Khofifah bisa memperjuangan dihapusnya sistem zonasi. Sebab dinilai oleh para ortu, cara itu tidak adil. Masak yang nilainya pas-pasan, diterima lantaran dekat sekolah. Sebaliknya, yang nilainya bagus, karena jauh dari sekolah tak diterima. “Kami yang pilih Bu Khofifah, tolong perjuangkan nasib kami.” kata pengunjuk rasa. – gunarso ts

Pembetulan – Pada Sental-Sentil edisi Selasa 18 Juni lalu terdapat kesalahan informasi. Ternyata Adian Napitupulu Caleg PDIP dari Dapil V Bogor lolos ke Senayan dengan perolehan 80.228 suara. Redaksi mohon maaf, dan selamat atas kembalinya ke Senayan. – Redaksi.