Tuesday, 17 September 2019

Saksi dari Kubu Jokowi-Amin Tidak Sampai 15 Orang

Kamis, 20 Juni 2019 — 20:26 WIB
Luhut Pangaribuan, anggota tim hukum Jokowi-Ma'ruf. (Yendhi)

Luhut Pangaribuan, anggota tim hukum Jokowi-Ma'ruf. (Yendhi)

JAKARTA – Menganggap mubazir, kubu Jokowi-Ma’ruf selaku pihak terkait tidak akan banyak menghadirkan saksi dalam sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang akan digelar pada Jumat (20/6/2019) di Mahkamah Konstitusi.

Luhut Pangaribuan, selaku anggota tim hukum Jokowi-Ma’ruf mengatakan pihaknya belum memutuskan berapa jumlah saksi yang akan dihadirkan. Namun demikian, dipastikan tidak mencapai 15 sebagaimana yang diberikan oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

Menurut Luhut, pemohon melalui saksi dan ahlinya yang mencapai 16 orang belum bisa membuktikan dalil mereka terkait adanya dugaan kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). Untuk itu pihaknya tidak akan banyak membawa saksi untuk membantah tudingan.

“Berdasarkan fakta, mungkin saksi tidak 15 orang karena tidak ada lagi yang harus dibuktikan, 15 orang akan mubazir dan akan diulang-ulang. Kami tetap akan hadirkan tapi jumlah tidak besar yang dialokasikan,” kata Luhut usai persidangan di MK, Kamis (20/6/2019).

Meski belum menyebutkan identitas saksi fakta yang akan dihadirkan karena masih dalam tahap penggodokan, tapi pihak terkait telah membeberkan nama ahli yang kemungkinan dihadirkan dalam persidangan besok untuk menjawab tudingan kecurangan TSM kubu pemohon.

Sebagaimana jatah yang diberikan oleh MK, tim hukum Jokowi-Ma’ruf menghadirkan dua orang ahli yang pertama adalah Guru Besar Hukum Pidana dari Universitas Gajah Mada (UGM) Prof. Eddy Hiariej dan satu lagi ahli hukum tata negara, Heru Widodo.

“Tadi saya katakan berkaitan TSM sudut pemilu. Kami sudah bicarakan profesor doktor Edy Hiariej dari UGM dan TSM perspektif bicara tata negara doktor Heru karena dia menulis desternasi tentang itu. Pastinya kami akan bicara dengan tim karena ini sudah cepat ya,” tandas Luhut. (Yendhi/b)