Monday, 22 July 2019

Pemuda Indonesia Bawa Isu Lingkungan Hidup di KTT ASEAN

Rabu, 26 Juni 2019 — 5:55 WIB
Najmi Mumtaza Rabbany bertemu Presiden Jokowi di KTT ke - 34 ASEAN di Bangkok. (ist)

Najmi Mumtaza Rabbany bertemu Presiden Jokowi di KTT ke - 34 ASEAN di Bangkok. (ist)

JAKARTA – Wakil dari Indonesia membawa isu lingkungan hidup pada forum Pemimpin Muda se-Asia Tenggara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke – 34 ASEAN 2019 di Bangkok, Thailand.

“Usulan kami tentang lingkungan untuk masuk ke dalam draft pembahasan ASEAN Youth Statement (pernyataan bersama pemuda ASEAN),” kata Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) Najmi Mumtaza Rabbany, di Jakarta, Selasa (25/6).

Najmi mewakili pemuda Indonesia dalam Forum Pemimpin Muda ASEAN (ASEAN Youth Leaders) dalam KTT ke – 34 ASEAN di Bangkok, Thailand, sejak Kamis (20/6) hingga Senin (24/6). Konferensi itu juga dihadiri kepala negara / kepala pemerintahan ASEAN, termasuk Presiden Jokowi.

Pada forum tersebut, Najmi menyampaikan bahwa isu lingkungan harus menjadi perhatian pemimpin negara-negara ASEAN. Pasalnya, hal tersebut telah membawa banyak dampak negatif terhadap kehidupan bangsa.

“Atas nama pemuda Indonesia, saya mengusulkan isu lingkungan untuk masuk ke dalam draft pembahasan ASEAN Youth Statement, mengingat maraknya sampah laut yang mayoritas berbahan plastik di lingkup laut kawasan ASEAN,” ujar pria Mahasiswa Universitas Gajah Mada.

Ia menambahkan ribuan ton sampah plastik dihasilkan setiap tahunnya dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurunya, perlu penanaman mental ramah lingkungan dalam hal ini.

“Saya rasa, di sini dibutuhkan penanaman mental ramah lingkungan di antara negara-negara anggota ASEAN demi tercapainya kelestarian lingkungan,” ungkapnya sebagai salah satu poin penting yang ia ajukan dalam ASEAN Youth Statement.

Di samping itu, ia juga mengungkapkan bahwa masyarakat ASEAN harus sudah meningkatkan inovasi untuk mengurangi persoalan tersebut. “Untuk mencapai tujuan ini salah satunya dengan mengimplementasi Carbon Market, dan berinvestasi dalam sektor teknologi dan inovasi,” kata Najmi.

Usulan tersebut diterima sebagai salah satu persoalan penting yang harus menjadi prioritas perhatian para pemimpin negara-negara Asia Tenggara, selain persoalan pendidikan dan pembangunan sosial ekonomi.(johara)