Tuesday, 23 July 2019

Ada Suami No. 01 dan No. 02 Bagaimana Bisa Poliandri?

Rabu, 3 Juli 2019 — 7:16 WIB
3-DIA-JULI-19

INI kisah di luar akal sehat. Ny. Santi, 35, warga Lampung Timur, kok bisa-bisanya bersuami dua (poliandri). Skandalnya terbongkar gara-hara HP-nya dipasangi GPS oleh suami No. 01. Maka saat Santi pergi untuk “melayani” suami No. 02, terbongkarlah semuanya. Bagaimana memisahkannya kembali, apakah perlu hakim MK?

Lelaki beristri sampai 4, itu masih wajar karena ajaran agama Islam memberi peluang untuk itu. Tapi jika perempuan sampai bersuami dua, agama manapun tak ada yang mengaturnya. Tapi di era gombalisasi ini, sudah sering terjadi. Padahal misalkan ditanyakan pada Rocky Gerung, paling-paling dijawab, “Itu di luar akal sehat dan tindakan dungu!” Klop sudah, karena di sini dungu juga bisa berarti mengadu sungu (tanduk), yakni tanduk para suami.

Sejak lima tahun lalu Santi menikah dengan Imam, 38. Secara lahir keduanya sangat berbahagia, karena dua anak telah lahir dari kerjasama nirlaba itu. Apa lagi suami istri sama-sama bekerja, sehingga secara ekonomi mereka tidaklah keteteran. Sebab untuk makan sehari-hari cukup, masih bisa menabung pula.

Tapi entah kenapa, Santi kok bisa tergoda dengan teman sekantornya di perusahaan gas. Jangan-jangan nikmat imannya masih berkurang, yang berlebihan justru nikmat seks-nya. Dia mau dipacari Yudi, 40, karena secara kasat mata tongkrongannya sangat menjanjikan. “Belum nanti soal “tangkringan”-nya, pasti seru sekali,” kata batin Santi.

Awalnya Santi menolak rayuan pulau kelapa Yudi. Tapi karena ditelateni terus, lama-lama ia luluh juga, bertekuk lutut dan berbuka paha untuk rekannya tersebut. Dan ternyata prediksi Santi memang betul seratus presen, baik tongkrongan maupun tangkringan Yudi memang berbanding lurus.

Sejak itulah Santi mulai tak jujur pada suami di rumah. Katanya nginep di toko usaha sampingannya, padahal aslinya malah kelonan dengan Yudi di tempat lain. Diam-diam Santi memang pernah nikah lagi dengan Yudi alias menjadi praktisi poliandri. Sejak itu pula Santi punya suami No. 01 dan suami No. 02. Di sinilah bedanya, jika Capres No. 0-1 dulu kepengin ketemu Capres No. 02 di sini justru suami No. 01 jangan sekali-sekali ketemu suami No. 02. Nenek bilang, itu berbahaya…….

Lama-lama permainan Santi terbongkar juga. Pernah Imam sekali waktu mendatangi toko malam-malam, ternyata Santi tak ada di situ. Mulailah lelaki malang ini mencurigai istrinya bahwa telah menyimpang dari jalannya revolusi kita, menurut istilah Bung Karno dulu. Kapan-kapan kepergok, pastilah akan dikeluarkan dekrit suami agar kembali ke Garis Besar Haluan Keluarga.

Diam-diam HP bininya dipasangi GPS sehingga mau nungging atau melintang di manapun akan terdeteksi dengan mudah. Dan itu benar-benar terjadi. Saat istrinya malam itu akan nginep di kantor, Imam sudah tidak percaya lagi. Faktanya, diam-diam membuntuti gerak gerik istrinya ke manapun. Ibarat kata, gunungpun akan kudaki, lautanpun kan kuseberangi, asal kudapati istri memang dikeloni……lelaki lain!

Dan ternyata benar, istri berhasil dipergoki ketika sedang kencan dengan Yudi. Tapi ketika dibawa polisi, selingkuhan Santi bersikeras telah menikah dengan resmi. Dan dia juga mengaku tidak tahu bahwa Santi masih punya suami, wong dianya tak pernah terbuka dalam urusan itu.

Tentu saja Imam terkaget-kaget, jadi istrinya selama ini punya dua suami. Demi keutuhan keluarga dia minta istrinya kembali, alias bercerai dengans suami No. 02 tersebut. Tapi rupanya Santi berekebaratan, karena sudah keenakan punya dua suami. Ya sudah, Imam meneruskan kasus ini ke polisi dan nantinya akan dipikirkan bagaimana cara ceraikan istrinya.

Kalau tanah bisa dibagi dua, kalau istri bagaimana mbaginya? (Gunarso TS)