Friday, 20 September 2019

Tak Seindah Kata Maaf

Kamis, 4 Juli 2019 — 6:21 WIB

Oleh: Harmoko

ADA ajaran leluhur yang perlu kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang intinya jika kita disakiti orang, segera lupakanlah. Sebaliknya kalau mendapat kebaikan dari orang lain, kenanglah sepanjang hayat.

Ini ajakan kepada kita agar mudah memberi maaf kepada kesalahan orang lain. Jangan simpam di hati, jika kita disakiti orang lain.

Dalam kehidupan bermasyarakat, saling memaafkan adalah awal dari adanya sifat kekeluargaan, untuk membangun kerekatan sosial. Bukan sebaliknya
mencari – cari kesalahan orang yang dapat memicu perselisihan.

Lebih -lebih dalam kehidupan politik yang penuh dinamika. Dikenal istilah “Tak adalawan abadi”, tahun lalu menjadi “lawan dan rival” tetapi hanya dalam hitungan hari, bahkan bisa juga menit, bisa berubah menjadi “kawan”.

Itulah kehidupan yang serba neka dan penuh dinamika yang seyogyanya tak ada lagi dendam, apalagi “dendam politik”. Yang hendak kita katakan adalah segala persoalan sejatinya bisa diawali penyelesaiannya dengan kata maaf dan saling memaafkan. Mulai dari lingkup terkecil di lingkungan keluarga, RT /RW, kelurahan, kantor pemda hingga istana.

Kata maaf bukan sebatas ucapan lisan, tetapi mencerminkan sikap dan perilaku rendah hati dan kebesaran jiwa. Agama apa pun mengajarkan agar kita mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Memaafkan berarti melupakan setiap kesalahan yang diperbuat orang lain. Sebab, kita sering lupa dengan kebaikan seseorang hanya karena satu
kesalahan. Seakan satu kesalahan itu menghapus ribuan kebaikan yang pernah dilakukan.

Kebaikan tetap kebaikan. Sebesar apapun kesalahan yang dilakukan seseorang, jangan pernah menghilangkan kebaikan yang pernah ia lakukan kepada kita. Islam mengajarkan siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya.

Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya.

Dalam pepatah Jawa juga sering diajarkan “*Yen siro dibeciki liyan iku tulisen ing watu,supoyo ora ilang lan tansah kelingan*” (jika kamu menerima kebaikan dari orang lain tulislah di batu,supaya tidak pernah hilang dari ingatan).

Sebaliknya ” *Yen siro gawe kabecikan marang liyan iku tulisen ing lemah supoyo enggal ilang lan ora kelingan*.” (jika kamu berbuat baik kepada orang lain tulislah di tanah supaya lekas ilang dari ingatan).

Filosofi tersebut mengajarkan kepada kita agar selalu mengingat kebaikan orang, sekecil apa pun kebaikan itu dilakukan. Sebaliknya jika kita berbuat baik, segera lupakanlah.

Ajaran ini sesuai dengan nilai dan budaya bangsa kita sebagaimana yang terkandung dalam butir- butir Pancasila, khususnya sila ke-2 Kemanusiaan
yang adil dan beradab. Pasca Pilpres, pasca putusan Mahkamah Konstitusi, cermin saling memaafkan di antara elit politik dan para pendukung dan simpatisannya sudah tidak diragukan lagi. Ini ditandai dengan situasi yang kian kondusif.

Memaafkan tak harus dengan ucapan, lisan atau tersurat. Tetapi yang lebih utama adalah tindakan nyata sebagai cermin kebesaran jiwa dalam menyikapi keputusan.Ini lebih riil sebagai bukti keikhlasan jiwa, ketimbang komentar yang tak diikuti dengan perbuatan seperti sering dikatakan dengan istilah “perbuatan tidak sesuai dengan ucapan” atau “ucapan tidak sepadan dengan
perbuatan”.

Kita berharap para elit politik, para pejabat negeri, meneladani aktivitas nyata untuk selalu mengingat setiap kebaikan warga masyarakat yang telah berjasa menyukseskan gelaran pilpres hingga putusan MK.

Apapun status, kedudukan dan latar belakang, termasuk latar belakang politiknya, setiap warga memiliki peran. Sekecil apapun, mereka telah
memiliki sumbangsih kepada negeri. Jangan berpandangan sebaliknya, melihat hanya dari satu sisi.

Keburukan atau kesalahannya. Hanya karena tidak sepaham, tidak sejalan, dan bukan sealiran. Atau hanya karena pernah berseberangan dalam sesuatu urusan.

Ada kata bijak “Ketika kenistaan dibalas dengan senyuman dan kekasaran dibalas dengan doa, itulah indahnya kesabaran dan memaafkan.” (*)