Sunday, 21 July 2019

Pandangan Hidup

Senin, 8 Juli 2019 — 5:49 WIB

Oleh Harmoko

KITA sering mendengar istilah bayangan hidup, pedoman hidup, pandangan hidup, pegangan hidup, perjuangan hidup dan tujuan hidup. Istilah yang kadang sering *diplesetkan* ini, sejatinya memiliki arti tersendiri untuk merengkuh kehidupan yang lebih bermakna dan berguna setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga. Lebih luas lagi bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Setiap orang tentu membayangkan hidupnya ingin sukses, bahagia dan sejahtera selamanya. Tapi tak sedikit bayangan itu hanyalah impian belaka. Berharap melimpah harta, yang didapat derita dan air mata sebagaimana lirik lagu  “Termiskin di dunia” yang didendangkan Hamdan ATT.
Jangankan gedung, gubuk pun aku tak punya
Jangankan permata uang pun aku tiada
Aku merasa orang termiskin di dunia
Yang penuh derita bermandikan air mata

Tak sedikit kondisi masyarakat seperti digambarkan dalam lirik lagu tersebut. Boleh jadi akibat salah jalan, menyimpang dari pedoman hidup atau malas berusaha. Padahal pedoman hidup mestinya menjadi tuntunan agar kita tidak salah jalan.
Pedoman hidup dapat menjadi petunjuk  ke mana seharusnya kita melangkah.
Bagaimana seharusnya bertingkah laku dalam masyarakat untuk berbuat baik dan benar.

Manusia dengan akalnya bisa saja menemukan kebenaran, tapi perlu diingat pula bahwa akal  tak selamanya petunjuk aman yang selalu benar menunjukkan jalan.

Itulah sebabnya kita juga perlu memiliki pandangan hidup sebagai pijakan untuk membimbing kehidupan baik secara jasmani maupun rokhani.
Selain pedoman dan pandangan hidup, kita perlu juga pegangan hidup agar terukir pola pikir atau prinsip untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dengan didasari oleh segala norma, utamanya agama, hukum dan sosial.
Meski begitu untuk mencapai tujuan, tidaklah cukup dengan pedoman, petunjuk dan pegangan. Hidup perlu perjuangan.

Ini yang disebut usaha dan kerja keras untuk meraih tujuan, merengkuh cita-cita. Dalam berusaha perlu didasari dengan percaya diri (bukan setengah hati). Adanya keyakinan, bukan karena keterpaksaan.

Agama Islam mengajarkan agar kita berdoa, sambil terus berusaha semaksimal mungkin, setelah itu baru berserah diri dengan penuh keikhlasan. Bahwa apa yang didapat itulah  “hasil keringat” sendiri. Jika tidak sesuai dengan harapan, berarti masih ada yang kurang dalam proses pencarian. Masih ada yang perlu diperbaiki di kemudian hari. Inilah evaluasi diri yang senantiasa merujuk kepada mawas diri bahwa kegagalan bersumber dari kekurangan diri sendiri, bukan karena orang lain, lebih – lebih sampai menyalahkan orang lain.

Pepatah Jawa kian menegaskan bahwa “Manungsa mung ngunduh wohing pakarti” (kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri). Siapa yang berbuat pasti akan menerima hasil perbuatannya.

Hanya saja kita perlu menyadari dalam setiap perjuangan hampir pasti membutuhkan pengorbanan. Dulu, untuk meraih kemerdekaan di negeri ini, tidak terhitung pengorbanan yang dipersembahkan para pejuang.Tidak hanya harta, juga jiwa dan raga.

Begitu pun pengorbanan hidup, jika ingin meraih kebajikan, kebahagiaan dan kesejahteraan, kedamaian, ketenteraman dan kenyamanan. Hidup memang penuh liku dan dinamika, tetapi harus bermakna setidaknya bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas.

Ada petuah bahwa  “urip iku urup” (hidup itu nyala). Hendaknya hidup itu memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Tentu, semakin besar manfaat yang kita berikan akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat hendaknya dapat kita berikan, ketimbang menjadi benalu dan meresahkan masyarakat.

Itulah pandangan hidup yang hendaknya kita terapkan hari ini, esok dan lusa guna menyongsong masa depan yang lebih baik dan sejahtera.
Sementara kita tahu bahwa sejahtera bukan sebatas kaya akan harta benda.
Agama mengajarkan kaya yang sebenarnya dan yang utama bukan karena harta benda, tetapi “kaya jiwa”

Orang yang kaya jiwa akan selalu bersyukur atas apa yang didapat. Tanpa berharap tambahan, jika  memang tidak membutuhkan. Tidak akan terus meminta kalau sudah tersedia. Tidak akan menuntut jika kebutuhan memang sudah tercukupi.

Ini mengajarkan agar kita tidak bersifat tamak, rakus dan serakah.
Hidup tak harus bertabur emas dan permata. Kata orang bijak, harta adalah hiasan hidup semata yang serba singkat.
Ibaratnya “urip mung mampir ngombe” – hidup di dunia cuma sekejap, seperti orang minum air.

Kesabaran, kejujuran, dan keikhlasan, adalah yang utama.(*)