Tuesday, 23 July 2019

Suka Mengadu ke Mertua Mulut Suami Diobok-Obok

Senin, 8 Juli 2019 — 6:34 WIB
cekik1

SAKIB, 33, kecewa betul menikahi Yayuk, 29. Dulu diharapkan jadi pendamping setia, eh belakangan malah jadi pendamprat. Rumahtangganya ribut melulu, gara-gara cemburu. Paling kurang ajar, karena Sakib suka mengadu ke mertua, mulutnya diobok-obok istri. Sakib kalap dan Yayuk pun dicekik sampai wasalam.

Kenapa banyak suami berkeberatan istrinya kerja? Karena biasanya istri yang punya penghasilan sendiri, jadi berani sama suami, bahkan berani mendiskresi politik rumahtangganya. Apa lagi jika penghasilan suami lebih kecil, bapaknya anak-anak makin tak direken. Memang tak semua wanita karier begitu. Banyak juga yang tetap memposisikan suami sebagai kepala rumahtangga yang sebenarnya. Dia tetap tunduk dan patuh pada kebijakan suami.

Sakib warga Kelurahan Muara Fajar Barat, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, termasuk lelaki yang malang itu; gaji kecil, terpaksa merelakan istri ikut kerja. Maka dalam keseharian Sakib jadi seperti tukang ojek. Istri berangkat kerja harus diantar, nanti pulangnya dijemput. Untungnya jam kerja mereka nyaris sama, yang beda hanya pendapatan tiap bulan.

Yang menarik, setiap mengantar dan menjemput istri, Sakib hanya sampai mulut jalan menuju kantornya. Tak pernah sama sekali sampai depan kantornya. Tak jelas apa penyebabnya. Mungkin Yayuk tak bangga dengan penampilan suaminya, jadi malu memperkenalkan pada teman-temannya. Bisa juga memang Sakib yang pemalu, karena gajinya lebih kecil dari istri. Padahal pastinya, kantor Yayuk tak pernah mengurus berapa gaji pasangan karyawannnya.

Sampai dua anak lahir, rumahtangga Yayuk-Sakib sebetulnya tetap rukun, aman terkendali. Tapi sejak HP smartpone mulai jadi milik setiap warga, di rumah pun Yayuk lebih asyik dengan HP-nya. Sambil nunggu si kecil tidur, dia asyik japri-japrian dan telpon-telponan pada seseorang. Jika suami bertanya, telpon siapa, jawab Yayuk ketus, ”Kok mau tahu saja urusan orang, memangnya sampeyan intelejen?”

Sakib pun mulai curiga, jangan-jangan istrinya punya PIL orang sekantor. Dia tambah yakin akan kecurigaan itu, karena ketika mengemukakan keberatannya malah Yayuk berani mendampratnya. Sakib pun jadi kaget. Dia sangat mendambakan istri menjadi pendamping setia, kok sekarang malah jadi pendamprat suami. Sejak kapan dia kursus mendamprat?

Karena istri susah dinasihati, akhirnya Sakib mengadu pada mertua tembusan kakak iparnya. Mereka pun lalu menasihati Yayuk, bagaimana menjadi ibu rumahtangga yang baik. Jangan mentang-mentang punya penghasilan sendiri yang lebih gede, lalu meremehkan keringat suami. Nggak boleh itu. “Berani sama suami, kamu bisa dikutuk malaikat sampai pagi!” kata orangtua Yayuk saat menasihati putrinya.

Eh, bukannya Yayuk sadar, malah dia jadi gondok sama suami sendiri. Dituduhnya Sakib mulut ember cap Gajah Slonjor, dengan beraninya dagu suami diangkat lalu mulutnya diobok-obok. “Kamu lelaki kok seperti perempuan sih, suka mengadu. Aku nggak mau lagi dengar kau mengadu pada orangtuaku dan kakakku.  Mengerti, ini serius!” ujar Yayuk sambil kemudian mencekik leher Sakib.

Wah, Sakib tentu saja tersinggung dua kali. Mulut buat ngomong dan makan kok diobok-obok seenaknya. Ditambah lagi pakai cekikan segala. Langsung saja tangan Yayuk ditepiskan dan gantian dia mencekik leher istrinya dengan tekanan gaspol. Saking jengkelnya, Sakib lupa bahwa Yayuk istri dan ibu dari dua anaknya. Cekikan yang lumayan lama, menjadikan Yayuk terkulai dan……wasalam!

Habis mencekik Sakib kabur, tak peduli lagi akan jenazah istri dan tangisan anak-anaknya. Polisi pun mengejarnya dari berbagai penjuru sampai bisa ditangkap di Simpang Telkom, Rumbai. Dalam pemeriksaan Sakib mengaku tak sadar bahwa cekikannya sampai mematikan istrinya. “Saya dicekik, ya balas mencekik,” Kata Sakib.

Nyekik ya nyekik, tapi kasih jalan napas dong. (Gunarso TS)