Saturday, 21 September 2019

Yuk Hemat Air

Senin, 8 Juli 2019 — 7:09 WIB

KEKERINGAN mulai menyergap kehidupan warga Jakarta dan daerah sekitarnya. Lahan persawahan, sungai, dan sumur sudah pada  mengering. Tanah pun retak-retak.

Kanal Banjir Barat Jatipulo, Jakarta Barat, misalnya, saat ini debit airnya menyusut.  Sebagian dasar kali kering kerontang dan retak-retak. Kondisi ini dimanfaatkan warga untuk tempat berinteraksi sosial.

Kekeringan juga terpantau di Jakarta Utara, terutama Rorotan. Lahan sawah di Rorotan yang biasanya subur dan tanaman pada hijau kini tandus serta menjelma menjadi lapangan sepakbola.

Sesuai dengan perhitungan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat, musim kemarau tahun ini sudah masuk mulai Mei. Prakiraan badan ini puncak kemarau terjadi September dan akan berakhir  pada penutup bulan Oktober.

Merujuk prakiraan BMKG Pusat, berarti kemarau masih akan terjadi di Jakarta dan daerah sekitarnya selama tiga bulan lagi. Di saat seperti ini biasanya warga akan lebih kesulitan mendapatkan air bersih.

Sumur pompa air tanah pada mengering. Pasokan air bersih biasanya juga agak tersendat karena sumber bahan baku  seperti waduk maupun kali juga  mengering.

Bakal makin sulitnya warga  mendapatkan air bersih di sejumlah lokasi patut diwaspadai semua pihak,  baik masyarakat maupun Pemprov DKI Jakarta.  Selain kemarau masih beberapa bulan lagi, pasokan air bersih dari PAM Jaya juga belum bisa mejangkau atau melayani seluruh warga ibukota.

Jumlah penduduk  Jakarta tercatat 10 juta jiwa lebih. Sementara sesuai dengan data, PAM Jaya  baru  bisa melayani air bersih kepada warga maksimal 70 persen dari total jumlah penduduk.

Ketika  kemarau mulai membekap Jakarta dan daerah sekitarnya, sudah seharusnya siapapun hemat air.  Janganlah   jor-joran menggunakan air tanah maupun air bersih pasokan dari PAM Jaya.

Cara ini setidaknya bisa memperlambat atau terhindar dari kesulitan mendapatkan  air bersih. Yuk, kita hemat  air. @*