Sunday, 21 July 2019

perubahan

Perubahan Angka di Form DA1, Perludem: Tidak Mengubah Hasil KPU

Jumat, 12 Juli 2019 — 11:40 WIB
ilustrasi

ilustrasi

JAKARTA – Direktur Eksekutif Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini mengatakan hasil pemilu Presiden dan Pileg bakal final setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengetuk palu kemudian menetapkannya melalui SK No 987.

Sementara untuk persoalan sengketanya hanya bisa diselesaikan di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Ketika KPU ketuk palu. Maka mekanisme koreksi ada di MK. Jadi, kalau ada perselisihan hasil, salah hitung, kecurangan, manipulasi itu memang di MK. Tidak ada pintu lain,” ungkap Titi Anggraini, Jumat (12/7/2019).

Perubahan angka di dalam berita acara di formulir DA1, tetapi SK KPU No 987 tidak berubah, maka tidak terjadi apa-apa dan tidak mengubah hasilnya. “Jadi, jangan dianggap perubahan DA1 itu bisa mengubah hasil. Hasil final itu yang ada di dalam SK KPU 987 itu. Tidak ada urusannya dengan DA1,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui ada tiga dapil yang bermasalah dengan formulir DA1 yakni Jatim XI, Jateng V dan Kalbar. Di tiga dapil ini, para caleg dan partai politik tidak mempermasalahkan sengketa ke MK, tetapi, KPU mengubah formulir DA1 dengan basis keputusan Bawaslu.

Titi menerangkan, untuk mengubah SK KPU No 987, tidak bisa hanya berbasis pada DA1 saja, maka perlu mengubah formulir DB, DC baru formulir DD.

“Walaupun ada perubahan angka di DA1, tidak mengubah hasil KPU. Hasil itu di SK KPU, bukan di DA1. Mengubah SK KPU No 987 itu tidak bisa hanya berbasis DA1,” katanya lagi.

Intinya, kalaupun ada caleg yang mempermasalahkan hasil karena hanya berbasis DA1 akan sia-sia. Sebab, caleg terpilih tetap berpatokan pada SK KPU No 987 bukan pada DA1.

“Sepanjang SK KPU No 987 itu tidak berubah maka penetapan caleg terpilih berdasarkan SK tersebut. Kecuali MK memutuskan lain,” katanya.

Mantan Anggota KPU, Ferry Kurnia Rizkiyansyah pun membenarkan jika ada sengketa hasil maka yang bisa mengubah hanyalah MK.

“Ada sengketa itu prosesnya di sengketa hasil di MK. Jadi ruang itu di MK saja. Kalau memang ada perubahan DA1 tanpa putusan MK tidak berlaku,” katanya.

Sekretaris Fraksi Partai Nasdem, Syarif Abdullah Alkadrie menjelaskan secara legal standing apa yang dilakukan oleh Bawaslu sudah kadaluarsa. Maka, keputusan KPU juga batal demi hukum karena tidak sesuai.

“Jika ada sengketa yang menyelesaikan sengketa itu adalah MK,” tegasnya.

Kalau KPU tetap melanjutkan berarti melawan hukum. Nasdem akan melakukan upaya hukum. “Kalau ada pidana kami pidanakan.”

Bahkan, jika perlu Partai Nasdem akan uji material keputusan Bawaslu dan KPU ke Mahkamah agung (MA) karena keputusan Bawaslu sudah keluar dari koridor yang ada. (julian/tri)