Saturday, 17 August 2019

Namanya RSUD sih, Bukan RSUK

Minggu, 14 Juli 2019 — 7:07 WIB
DUL-RSUD
  1. Oleh S Saiful Rahim

“EH, ke mana kau kemarin? Batang hidungmu tidak kelihatan, Dul?” tanya orang yang duduk di dekat pintu masuk ketika melihat wajah Dul Karung muncul bersama suara “assalamu alaykum” yang fasih.

“Beribadat ke RSUD Koja,” jawab Dul Karung sambil mencomot singkong goreng yang masihkebul-kebul.

“Astaga! Beribadat kok ke Rumah Sakit? Yang kau sebut RSUD itu Rumah Sakit Umum Daerah kan? Yang pantas dan patut sekarang ini beribadat ke Mekah, tahu! Kan sekarang musim haji,” sambar orang  yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Jangan lupa, salah satu syarat ibadah haji adalah yang disebut “bila mampu.” Artinya minimal punya ongkos transport, makan, dan tidur. Transport pun bukan kelas Jaklingko, tetapi pesawat terbang. Nah mana mungkin Si Dul mampu? Utangnya pada Mas Wargo saja tak lunas-lunas,” sambung orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk para pelanggan warung Mas Wargo.

“Bung itu tidak salah,” sela lelaki berkopiah yang duduk di depan Mas Wargo seraya menunjuk Dul Karung.

“Cara beribadah itu bermacam-macam.  Jangankan ke rumah sakit, menjenguk seraya mendoakan orang-orang yang sedang sakit, sedangkan menurut Rasulullah Saw, membuang duri dari jalanan yang dilalui orang pun adalah suatu ibadah,” kata orang berkopiah yang rasanya belum pernah mampir di warung Mas Wargo itu.

“Aku kira kau nggak datang-datang ke sini karena ziarah, Dul. Kan kebiasaan orang-orang Betawi setelah sehari dua hari Lebaran, lalu berziarah ke makam-makam yang dianggap keramat,” sambar orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Nah, kalau yang begituan harus hati-hati. Harus dikaji dulu. Sebab keyakinan seperti itu bisa menyesatkan. Tahu nggak, di Senen sana ada jalan yang panjang, gede dan ramai.  Namanya Jalan Kramat Raya, tapi sama sekali tidak keramat atau bertuah,” kata orang yang entah siapa dan duduknya di sebelah mana. Tapi ucapannya mampu membuat tawa hadirin benar-benar meledak-ledak.

“Saya dengar-dengar kabarnya kondisi dan pelayanan RSUD Koja itu kurang baik. Fasilitas Instalasi Gawat Darurat, atau IGD-nya di lantai dua. Padahal di rumah sakit mana pun IGD itu umumnya di lantai satu. Bahkan tidak jauh dari pintu masuk, sehingga tiap pasien bisa cepat dimasukkan ke ruang darurat itu. Namanya darurat jangan sampai pengunjungnya harus mutar-mutar atau berjalan jauh dulu, menarik urat,” kata orang yang duduk di dekat pintu masuk warung.

“Iya, betul tu!” kata orang yang duduk tepat di kiri Dul Karung.

“Bahkan Wakil Komisi E DPRD DKI Jakarta pernah mengecam kondisi RSUD tersebut. Ada juga yang menduga pasti ada apa-apanya  antara pemborong dan entah siapa di balik ketidak-beresan itu,” sambung orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Alah, jangan keliwat cerewetlah. Nanti malah kita yang stres. Santai-santai sajalah,” kata Dul Karung sambil mengunyah singkong yang baru dicomotnya lagi, dan masih kebul-kebul juga.

“Lagi pula namanya saja rumah sakit. Ya ada sakitnyalah. Kalau namanya rumah sehat, Insya Allah semua serba afiat,” sambung Dul Karung masih seenaknya saja.

“Satu lagi,” kembali kata Dul Karung.

“Namanya RSUD, jadi itu proyek “Rumah Sakit Untuk Dia,” sambung Dul Karung tambah seenaknya.

“Ah, Si Dul, Si Dul. Itu kan “Rumah Sakit Umum Daerah?” Ya singkatannya RSUD,” serobot seseorang yang entah siapa dengan nada yang tinggi.

“Bikin saja “Rumah Sakit Umum Kota.” Kan singkatannya jadi “RSUK.” Jadi kita bisa membuat kepanjangannya  “Rumah Sakit Untuk Kita.” Nah kita kan bisa ikut-ikutan mengaturnya. Bukan cuma dia dan dia saja,” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung. (***)