Saturday, 17 August 2019

Holopis Kuntul Baris

Senin, 15 Juli 2019 — 8:32 WIB

Oleh Harmoko

 

KITA sering mendengar ungkapan ” Holopis kuntul baris”, sebuah ajakan untuk saling bahu membahu, tolong menolong mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi secara bersama – sama.

Bung Karno pernah mengutip ungkapan tersebut dalam sebuah pidatonya untuk membakar  semangat pemuda Indonesia bersatu padu mengisi kemerdekaan, membangun bangsa dan negara.

Berikut kutipannya, “Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama. Dari semua untuk semua..”

Penelusuran sejumlah literatur menyebutkan ” holopis kuntul baris” merupakan peribahasa Jawa –  saiyeg saeka praya, bebarengan mrantasi gawe – bekerja serentak dan bersama – sama menyelesaikan persoalan.

Kuntul menjadi simbol karena, konon,  burung sawah ini bisa berbaris membentuk harmoni melambangkan guyub dan rukun.

Pola kerja sama, guyub dan rukun ini  identik dengan gotong royong. Simbolisasi yang kini sangat dibutuhkan untuk membangun negeri.

Menyongsong pemerintahan baru mendatang, sangat diperlukan kegotongroyongan dari seluruh elemen bangsa.

Menyelaraskan semua kepentingan, memantapkan soliditas dan solidaritas dengan membangun kekuatan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial sebagaimana tujuan negeri ini didirikan.

Ibarat burung kuntul mari berbaris, duduk sejajar, berdiri setara dan terbang tinggi menggapai cita- cita bersama.

Maknanya tidak melihat latar belakang dari parpol mana, dari kelompok mana, relawan siapa dan dari mana, ini jika kita sudah bertekad bersatu membangun negeri. Dan, yang lebih utama tidak pamrih. Hindari menonjolkan saya/kami yang paling berjasa.

Pepatah Jawa mengatakan ” Sepi ing pamrih ramai ing gawe, Banter tan mbancangi, duwur tan ngungkuli” (bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih, Cepat tanpa harus mendahului, tinggi tanpa harus melebihi).

Itulah hakikat kesetaraan duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, sebagai esensi kegotong royongan, pola kerja bersama yang cocok diterapkan era kini, tentu dengan menyesuaikan situasi dan kondisi.

Sejarah mencatat, gotong royong mampu memerdekaan negeri, mengatasi beragam kesulitan pasca kemerdekaan.

Fakta telah membuktikan gotong royong tak hanya merekatkan silaturahmi melalui kerja bersama sesama warga dan tetangga, memperkuat persatuan, juga bisa menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan sosial.

Kesejahteraan sosial berasal dari kata dasar sejahtera dan sosial. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  sejahtera adalah aman, sentosa,makmur, selamat ( terlepas dari segala macam gangguan dan kesusahan). Sedangkan sosial berkenaan dengan masyarakat, termasuk kepeduliaan dan keperhatiannya kepada masyarakat.

Dengan begitu kesejahteraan sosial adalah keadaan dimana masyarakat memperoleh kebutuhan material, spiritual dan sosial secara baik. Bisa hidup layak dan mampu untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki secara maksimal yang memungkinkan fungsi sosial sebagai manusia dapat terpenuhi.

Tak heran jika istilah kesejahteraan sosial sering diidentikkan dengan “kesejahteraan masyarakat atau kesejahteraan umum”.

Kita tahu bahwa kesejahteraan umum merupakan kewajiban negara untuk mewujudkannya.

Sikap gotong royong yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia menjadi satu upaya mewujudkan kesejahteraan umum.

Gotong royong tak sebatas kerja bakti seperti membersihkan saluran air, babat rumput dan merapikan pohon.

Setidaknya gotong royong meliputi empat bidang kegiatan, yakni kemasyarakatan, ekonomi, sosial- budaya – agama dan gotong royong lingkungan.

Keempat bidang inilah yang dapat memunculkan lembaga – lembaga sosial yang bertujuan selain membantu menyelesaikan masalah kemasyarakatan baik di bidang sosial, ekonomi, budaya dan agama. Juga menguatkan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat. Mendorong warga masyarakat berperan aktif dalam aksi sosial ekonomi, saling berbagi dan peduli, serta aktivitas lain dalam berbagai aspek pembangunan yang tujuan akhirnya terciptanya kesejahteraan sosial (umum) sebagaimana diamamatkan dalam pembukaan UUD 1945.

Semoga. (*).