Tuesday, 20 August 2019

Demi kemajuan Kota Tua, DKI Diminta Belajar dari Malioboro

Rabu, 17 Juli 2019 — 6:14 WIB
Kepala UPK Kota Tua DKI Jakarta Norviadi Setio Husodo, di Yogyakarta

Kepala UPK Kota Tua DKI Jakarta Norviadi Setio Husodo, di Yogyakarta

YOGYAKARTA – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta, Hamid Ponco Wibowo, mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI perlu berkolaborasi dengan lembaga terkait lainnya. Ini dilakukan untuk meningkatkan sektor pariwisata di Jakarta.

Ia menilai perkembangan pariwisata erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Itu makanya semua stakeholder terkait harus turut dilibatkan, supaya kualitas pariwisata di Jakarta dapat semakin meningkat.

Ia mengajak Pemprov DKI untuk mempelajari cara Yogyakarta mengembangkan wisata Malioboro. Tujuannya, agar Kota Tua sebagai salah satu tempat wisata di Jakarta ini dapat semakin menarik perhatian layaknya Malioboro.

“Data 2018 menjelaskan wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia 15,8 juta orang. Bali nomor satu pilihan destinasi. Padahal Jakarta adalah ibu kota, dan masih kalah dari Yogyakarta. Apakah kita tidak bisa berbenah?” Ujar Hamid dalam media gathering di Yogyakarta, Senin (15/7/2019) malam.

Menurutnya, salah satu destinasi wisata di Jakarta yang harus dikembangkan ialah Kota Tua. Namun sayangnya, sebagian besar masyarakat hanya mengetahui kalau kawasan Kota Tua hanya sebatas Taman Fatahillah. Padahal, kawasan Kota Tua mencakup kawasan Kampung Pecinan, Glodok, Kawasan Kampung Arab, Pekojan, dan Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa.

“Kalau keempat lokasi ini dikembangkan, bisa menjadi wajah baru. Kita bisa belajar bagaimana Malioboro menciptakan branding bagus dan bisa menarik wisatawan untuk berkunjung kembali ke sana (kawasan Kota Tua),” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk meningkatkan kualitas pariwisata, salah satu caranya ialah dengan membenahi aksebilitas menuju lokasi wisata. Hal ini agar memudahkan para wisatawan nantinya untuk berkunjung ke sana. Pemprov DKI pun diharapkan dapat segera menuntaskan persoalan tersebut.

“Jika ingin meningkatkan pendapatan daerah, serta menambah devisa negara, maka kawasan pariwisata harus memerhatikan masalah aksesibilitas, khsusnya transportasi. Kita berharap Pemprov DKI bisa menyelesaikan hal tersebut,” tandas Hamid. (firda/yp)