Tuesday, 17 September 2019

TGPF Curigai 3 Orang sebagai Terduga Penyerang Novel baswedan

Rabu, 17 Juli 2019 — 14:46 WIB
Novel Baswedan, penyidik senior KPK. (cw6)

Novel Baswedan, penyidik senior KPK. (cw6)

JAKARTA – Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menemukan fakta ada tiga orang tidak dikenal sebagai terduga penyerang Novel Baswedan, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Juru Bicara TGPF Novel Baswedan, Nur Kholis mengatakan, telah melakukan reka ulang di tempat kejadian perkara (TKP) dan menganalisa isi CCTV di sekitar kediaman Novel di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ia menyebut tim telah mewawancara ulang sejumlah saksi, bahkan saksi tambahan. Juga menganalisa polanya.

“TPF cenderung ada fakta lain, 5 April 2017 ada satu orang tidak dikenal mendatangi rumah Saudara Novel,” ungkapnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, rabu (17/7/2019). “Lalu pada 10 April 2017 ada dua orang tidak dikenal datang. Ini diduga terkait dengan penyerangan.”

Atas temuan itu, TGPF telah merekomendasikan ke Kapolri Jendral Tito Karnavian untuk membentuk tim pengejar sosok tersebut. Selain itu, ia juga menyampaikan ditemukan fakta kuat bahwa besar kemungkinan penyerangan tersebut berkaitan dengan penanganan kasus yang digeluti Novel.

“TPF meyakini adanya probabilitas bahwa serangan pada wajah bukan untuk membunuh, tapi untuk membuat menderita. Bisa untuk membalas sakit hati atau memberi pelajaran korban baik atas (inisiatif) sendiri atau disuruh orang lain,” ujarnya.

Menurut Nur Kholis, air keras yang digunakan untuk menyiram Novel adalah jenis asam sulfat H2SO4 yang berkadar larut tidak pekat. Larutan ini memberi kerusakan pada bagian tubuh namun tidak menyebabkan kematian.

“Fakta terdapat probabilitas adanya penanganan kasus yang dilakukan korban, akibatnya adanya dugaan penggunaan wewenang secara berlebihan. TPF meyakini serangan itu tidak terkait dengan masalah pribadi, tetapi pekerjaan korban,” jelas Nur Kholis.

TPF kasus Novel dibentuk Kapolri 8 Januari 2019 berdasarkan rekomendasi Komnas HAM. Masa kerjanya selama 6 bulan hingga tugas itu berhenti pada 7 Juli 2019. (ilham/yp)