Tuesday, 20 August 2019

Jelang Final Piala Afrika 2019, Senegal Dapat Dukungan dari Tuan Rumah

Kamis, 18 Juli 2019 — 4:58 WIB
Pemain Senegal (reuters)

Pemain Senegal (reuters)

KAIRO – Jelang partai final Piala Afrika 2019 yang digelar di Stadion Internasional, Sabtu (20/7), 02:00 WIB, Timnas Senegal sepertinya bakal mendapat keuntungan setelah suporter sepakbola tuan rumah, terbelah. Pasalnya, sebagian besar masyarakat Mesir dikabarkan bakal memberikan dukungan kepada tim manapun pasca tersingkirnya tim kesayangan mereka, asalkan bukan Aljazair.

Maklum, Timnas Mesir punya kenangan buruk saat bertemu dengan Aljazair di stadion yang sama pada babak fase grup babak kualifikasi Piala Dunia zona Afrika, bulan November 2009 lalu. Saat itu, Stadion di Kairo menjadi sebuah antara kedua suporter sepanjang jalannya pertandingan yang dimenangkan oleh tuan rumah dengan skor 2-0 untuk kemenangan tuan rumah.

“Dalam soal penampilan, mereka (Aljazair red) memang layak berada di final dan menjuarai turnamen ini,” kata Mohamea, seorang warga Mesir yang rutin menonton Piala Afrika, seperti dikutip Reuters.

Mesir tersingkir di babak 16 besar tahun ini setelah kalah 0-1 dari Afrika Selatan. Kekalahan tersebut turut memicu kekecewaan publik tuan rumah yang diikuti dengan perombakan secara besar-besaran dalam tubuh asosiasi sepakbola Mesir. Mereka pun mulai mendukung timnas lain, asalkan bukan Aljazair.

Akibatnya, saling ledek antara pendukung Aljazair dengan pendukung Mesir yang mendukung Nigeria pada babak semifinal, beberapa waktu lalu. Rivalitas antara dua negara Afrika Utara itu, selama ini memang kerap menjadi momok dalam sepakbola Benua Hitam tersebut.

Di sisi lain, masih ada suporter Mesir yang tetap mendukung Aljazair karena solidaritas sesama negeri Arab. Meski demikian jumlah tersebut tidak akan banyak terlebih setelah para pendukung Aljazair merayakan keberhasilan tim kesayangan mereka di Kairo usai lolos ke partai final dengan mendepak Nigeria 2-1 di babak semifinal.

“Saya mendukung mereka (Aljazair red) karena kami sesama bangsa Arab, meski sesungguhnya kami tidak terlalu menyukai mereka setelah apa yang mereka lakukan di babak semifinal dan pada pertandingan 2009 lalu.” kata Ali, seorang Mahasiswa berusia 23.

Pelatih Aljazair, Djamel Belmadi mengaku tidak terlalu menanggapi serius soal dukungan para suporter tuan rumah yang terbelah. Ia mengaku bahwa kunci permainan bagi kedua tim pada partai final nanti, terletak bagaimana para pemain bisa fokus dan memenangkan pertandingan.

“Anda tidak akan menjadi juara dalam sebuah turnamen besar seperti Piala Afrika, jika Anda hanya bergantung pada jumlahnya dukungan di dalam stadion. Kami di sini datang untuk memenangkan pertandingan. Itulah fokus kami,” tegas Belmandi.

Hal senada juga diungkapkan pelatih Senegal, Aliou Cisse. Ia bahkan mengaku tidak mau mengalami kesialan dua kali karena terlalu hanyut dalam dukungan para suporter. Hal itu pernah ia alami saat masih menjadi pemain pada Piala Afrika 2002 silam.

Saat itu mereka takluk 2-3 dari Kamerun dalam drama adu penalti setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit laga. Sialnya, Cisse jadi salah satu yang paling bertanggung jawab atas kekalahan itu setelah gagal membuahkan gol sebagai eksekutor drama adu penalti. (junius/yp)