Saturday, 17 August 2019

Ojo Dumeh

Kamis, 18 Juli 2019 — 6:49 WIB

Oleh Harmoko

 

BANYAK ceritera rakyat yang menggambarkan bahwa kesombongan pada akhirnya
akan mendatangkan bencana dan petaka bagi dirinya. Begitu juga banyak
dongeng untuk anak – anak yang menceritakan bahwa keburukan hendaknya
ditinggalkan karena akan mendatangkan kesengsaraan. Sementara kebaikan akan
membawanya kepada kebahagiaan. Sebut saja ceritera “Bawang merah bawang
putih”, “Cinderela” dan masih banyak lagi.

Boleh jadi itu hanyalah ceritera rakyat atau dongeng, tetapi sarat makna
karena tujuannya adalah mengedukasi anak sejak dini agar senantiasa
berperilaku baik terhadap sesama, bukan mengedepankan keburukan.

Tak ada agama yang mengajarkan keburukan. Semuanya mengajak kita berlomba
berbuat kebaikan, di antaranya menjauhkan diri dari sifat sombong, congkak
dan takabur.

Kisah Raja Fir’aun menggambarkan kesombongan membawa kebinasaan. Orang yang
takabur akan hancur dan terkubur.
Dikisahkan di dalam Al-Quran, bagaimana Allah SWT menghukum Fir’aun bersama
bala tentaranya dengan menenggelamkan mereka di Laut Merah.
Ketika itu Nabi Musa AS pergi meninggalkan kota Memphis menuju ke Laut
Merah. Fir’aun dan bala tentaranya menyusul dari belakang. Setibanya di
tepi Laut Merah, Allah perintahkan kepada Nabi Musa untuk memukulkan
tongkatnya ke laut, secepat kilat laut pun terbelah, bukan surut. Nabi Musa
dan pengikutnya menyeberang lautan yang terus terbelah sampai mereka semua
selamat tiba di seberang. Setelah itu laut menutup menenggelamkan Fir’aun
beserta pengikutnya.

Secara etimologi sombong berarti menghargai diri sendiri secara berlebihan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memadankan dengan congkak, pongah.
Kesombongan adalah keangkuhan, kecongkakan, takabur.

Dalam filosofi Jawa juga diajarkan  agar kita tidak pongah dikenal dengan
istilah “*ojo dumeh*”. Ojo = jangan. Dumeh= mentang -mentang. Ajakan untuk
selalu introspeksi diri ketika seseorang sudah dihinggapi sifat “dumeh”
karena telah menyandang sejumlah predikat baik harta benda, pangkat,
jabatan dan kedudukan.

Yang ingin ditanamkan adalah nilai kepedulian diri terhadap sesama manusia,
lingkungan sekitar dan tanggung jawabnya kepada Sang Pencipta yang telah
memberikan beragam predikat tadi.
*Ojo dumeh* adalah filter agar tidak berperilaku berlebihan.
Agar bisa mengesampingkan semua keinginan pribadi dengan mempedulikan orang
lain, meski mampu secara materi, pangkat, jabatan dan kedudukan.
Kita boleh saja menjadi apa yang diinginkan dan dikehendaki karena segala
fasilitas dimiliki. Tetapi bukan lantas tidak menghargai dan menghormati
keberadaan orang lain.
Istilahnya “*ngono yo ngono, ning ojo ngono*” – begitu ya begitu, tapi
jangan sampai begitu karena di sekitar masih ada orang lain yang bisa saja
merasa tersakiti.

Menerapkan filosofi *ojo dumeh* berarti kita senantiasa menempatkan orang
lain untuk dihargai dan dihormati apa pun status sosial ekonominya.
Menganggap orang lain pada posisi yang sangat manusiawi. Bukan sebaliknya
mengorbankan orang lain karena posisinya.
Melengkapi filter diri, ada pepatah yang menyebutkan ” *ojo dumeh mundak
keweleh*” – jangan sombong, jangan merendahkan orang lain,  nanti bisa
membuat malu diri sendiri.
Ini ajakan kepada kita semua agar selalu introspeksi diri mengingat tak ada
yang langgeng di dunia ini. Kehidupan itu ibarat roda berputar, ada kalanya
di atas penuh dengan segala fasilitas, kalanya di pinggir karena kedudukan
mulai tersingkir, suatu saat bisa di bawah, lebih rendah dari orang yang
dulu berada di bawahnya.
Nilai – nilai falsafah sederhana ini sejatinya sudah lama menjadi pitutur
luhur bagi bangsa Indonesia. Jika diterapkan dengan penuh kesadaran dan
keikhlasan, akan menjadi kekuatan besar dalam menyejahterahkan dan
membahagiakan bangsa. Ini harus dimulai dari diri kita sendiri, lebih –
lebih bagi para pejabat negeri pada semua lini. (*)