Wednesday, 21 August 2019

Neta S Pane, Ketua IPW

Dulu Penjual Koran Keliling

Sabtu, 20 Juli 2019 — 8:27 WIB
Neta S Pane. (rizal)

Neta S Pane. (rizal)

SUARANYA sangat lantang. Bahkan kritikannya kerap membuat ‘telinga’ institusi kepolisian kepanasan. Dialah, Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW).

Namun siapa sangka, pria asal Medan menyimpan kenangan hidup yang tak pernah terlupakan. Saat menjadi pelajar, Neta menjadi penjual koran keliling di terminal bus Sambu, Medan.

“Saya sempat jual koran keliling, eh nggak tahunya sekian puluh tahun kemudian awak menjadi  Redaktur Pelaksana,”  katanya dengan gelak tawa yang lepas.

Sebelum menjadi wartawan, Neta sempat merantau ke Yogyakarta.  Namun di kota Gudeg, dia tidak lama, dan kembali menjadi wartawan di Jakarta

“Ketika menjadi wartawan, awak sempat juga meliput kriminal dan berbagai bidang. Ketika menjadi wartawan itulah saya banyak belajar berbagai sosok yang dihadapi di lapangan,” kata pria kelahiran 18 Agustus 1964 yang sempat menjadi reporter di Surat Kabar Harian (SKH) Merdeka di Jakarta, 1984 ini.

Selepas dari SKH Merdeka, Neta menjadi asisten Redpel di Harian Terbit, Jakarta tahun 1993 dan kemudian menjadi Redpel koran Aksi Jakarta. Beliau mencapai jabatan tertinggi di bidang media adalah dengan menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Surat Kabar Jakarta tahun 2002-2004.

“Setelah kenyang berkarir di dunia jurnalistik, Neta kemudian aktif menjadi seorang aktivis hingga menjabat sebagai Ketua Presidium IPW.

REKENING GENDUT
Melalui IPW, putra pasangan Tapi Rumondang Siregar dan Endar Pane ini mengkritisi beberapa kasus kepolisian yang cukup menggegerkan seperti kasus rekening gendut sejumlah pejabat kepolisian, para perwira Polri yang diduga menerima suap dari Gayus Tambunan, serta yang terbaru adalah  mengomentari tindakan polsi saat memeriksa Anas Urbaningrum. Dia  menilai bahwa Polri dipecundangi oleh partai politik.

“Begitulah kehidupan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini dan esok. Yang penting kita harus percaya diri dengan apa yang kita kerjakan,” katanya  berfilsafat.

Selain berkarir menjadi aktivis di IPW, Neta terbilang produktif dalam menulis seperti buku, karya ilmah, dan sastra. Dia  juga menjadi dosen tidak tetap di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Universitas Muhammadiyah, dan sejumlah kampus lainnya.

Kini, separuh dunia ini telah dijelajahinya. Tentu tidak ada kaitannya dengan politik maupun masalah polisi. “Saya tak pernah menyangka sebagai mantan penjual koran bisa keliling dunia,” kata aktivis yang suka menulis setiap kisah perjalanan di media sosial ini.

Bulan depan Neta S Pane akan ke Rusia untuk menelusuri negara Beruang Merah itu untuk menulis perjalanannnya.  “Saya keliling dunia untuk menulis untuk persahaan trevel di Jakarta,” ucapnya.

Ketika ditanya, apakah lupa untuk mengkritisi polisi, dengan tertawa wartawan yang sempat ke markas GAM ini memgatakan tidak. “Mengkritisi polisi untuk lebih baik tidak akan berhenti,” ucapnya. (rizal/bi)