Saturday, 17 August 2019

Aku Anak Indonesia

Senin, 22 Juli 2019 — 7:59 WIB

Oleh Harmoko

SERING kita dengar masih terdapat banyak problema yang menimpa anak – anak kita, anak Indonesia. Tak hanya di bidang kesehatan akibat sebagian anak menderita gizi buruk, di bidang  pendidikan karena terbatasnya kesempatan bersekolah negeri, juga  sektor sosial ekonomi lainnya seperti anak terlantar.

Belum lagi yang menjadi korban kejahatan, bahkan karena terdesak situasi ikut terseret menjadi pelaku tindak pidana.
Itu masalah sosial yang tak bisa dipungkiri karena acap kita saksikan  di depan mata. Sebuah kondisi yang menuntut adanya sejumlah upaya yang harus dilakukan pemerintah, kementerian dan lembaga terkait untuk mengentaskan persoalan anak Indonesia.

Definisi anak sendiri cukup beragam, bisa dilihat dari kasusnya. Jika terkait proses hukum, batasan usia anak di bawah 18 tahun, begitu juga aturan bagi syarat pernikahan, jika mengacu Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pada pasal 1 ayat 1, disebutkan yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.
Dalam konteks membangun bangsa kedepan, batasan usia anak hendaknya dengan melihat kebutuhan sesuai fungsi dan tujuan.
Menyiapkan generasi mendatang yang lebih berkualitas, idealnya harus dimulai sejak dalam usia kandungan seperti halnya yang dilakukan banyak lembaga/ badan dunia.

Di bidang pendidikan direncanakan sejak balita. Itulah sebabnya Bank Dunia misalnya begitu konsen memberikan support terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD) kepada sejumlah negara berkembang, termasuk kepada negeri kita.
Pemerintah pun sebenarnya sudah menaruh perhatian kepada pendidikan usia dini. Persoalannya terletak kepada kemampuan keluarga mengingat alokasi dana pendidikan tersebut masih minim, jika tidak disebut tak ada. Begitu juga ketika anak memasuki usia 5 dan 6 tahun, usia prasekolah atau dikenal pendidikan taman kanak – kanak.
Pendidikan pada kedua jenjang tadi akhirnya lebih diserahkan kepada keluarga masing – masing.

Di daerah megapolitan sudah tersebar model pendidikan usia dini yang dikelola swasta, tentu dengan biaya yang tidak murah, apalagi jika berfungsi ganda sebagai “rumah keluarga”. Sementara di pedesaan, masih sangat jarang, bukan saja karena minimnya fasilitas yang tersedia, juga dianggap belum menjadi kebutuhan yang mendesak, dari sisi ekonomi rumah tangga.
Kita sadar pendidikan pada usia dini sangatlah penting karena pembentukan karakter dimulai pada usia tersebut.

Telaah para ahli, keluarga merupakan lembaga/pendidikan pertama dan utama bagi seseorang. Keluarga sangat berperan dalam mengembangkan watak, karakter, dan kepribadian seseorang.
Kita sepakat pendidikan dalam keluarga perlu lebih diberdayakan menjadi pondasi dasar membentuk anak berkarakter kuat untuk patuh terhadap segala norma dan etika.
Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah kecenderungan anak yang suka mencontoh berbagai kebiasaan dan perilaku orangtuanya.
Baik buruknya karakter/perilaku  anak di masa datang sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang diberikan oleh keluarganya dan lingkungan terdekatnya.

Di sisi lain, keluarga mempunyai peran melindungi anak dengan memberikan pola asuh yang sesuai dengan prinsip yang digunakan dalam pembangunan Anak Indonesia. Prinsip dimaksud adalah non dikriminasi, hak hidup, kelangsungan hidup, perkembangan anak, dan patut menghargai pandangan anak. Itulah poin- poin perlidungan terhadap anak.

Kita perlu mendorong agar keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak, sehingga akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air. Keluarga akan berperan optimal memberikan perlindungan jika ditopang kemampuan sosial ekonominya, yang paling standar cukup pangan, sandang dan papan.

Kita ingin anak Indonesia bangga akan dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan negerinya. Banggga menjadi anak Indonesia seperti diinspirasi lewat lagu “Aku bangga menjadi anak Indonesia” ciptaan Titiek Puspa.
Berikut petikan liriknya.

“Akulah anak bangsa indonesia
Sopan santun dan cinta damai
Hormat kepada ayah bunda
Taat kepada Sang Maha Esa

Indonesia, aku pun berjanji
Harus jadi bangsa terpuji
Terima kasih pada pahlawan
pahlawan dari segala bidang”
(*)