Thursday, 22 August 2019

Cari Korban di Instagram, Pemuda 25 Tahun Cabuli Anak SD sampai SMA

Senin, 22 Juli 2019 — 21:11 WIB
Wadirtipid Siber Polri Kombes Asep Safrudin memberikan keterangan terkait Pedofil pencabulan anak

Wadirtipid Siber Polri Kombes Asep Safrudin memberikan keterangan terkait Pedofil pencabulan anak

JAKARTA  – Petugas Subdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, mengamankan seorang nara pidana (napi) melakukan cabul teehadap anak di media sosial (sosmed). Tersangka TR (25) adalah napi yang baru menjalani vonis 2 tahun dari putusan 7 tahun 6 bulan dalam perkara mencabuli anak di bawah umur.

Wadirtipid Siber Polri  Kombes Asep Safrudin mengatakan selama di dalam Lapas, tersangka kembali melakukan eksploitasi seksual terhadap anak di dunia maya. Carannya, ia menyamar sebagai guru.

“Tersangka berpura-pura memberikan nilai terhadap anak murid yang berhasil membuat foto dan video adegan pornografi dengan dituntun tersangka untuk melakukan selfie tanpa busana,” kata Kombes Asep, Senin (22/7/2019).

Menurutnya, tersangka semula mengelak melakukan kejahatannya terhadap beberapa korban, namun setelah penyidik berhasil menemukan barang bukti. Di antaranya pemeriksaan digital forensic berupa ribuan foto dan video para korban yang tersimpan di HP dan beberapa email. tersnagka tak bisa mengelak lagi. Ia pun mengau korbannya hampir 50 anak.

“Dari wajah dan postur anak dan pengakuan tersangka saat berkenalan, diketahui rata-rata masih duduk di bangku kelas 5 SD hingga kelas 3 SMA usianya sekitar 11 – 17 tahun. Seluruh korban belum diketahui identitas dan alamatnya. Untuk itu penyidik sedang berupaya melakukan identifikasi guna menemukan keberadaan korban untuk dilakukan rehabilitas secara medis,” pungkasnya.

Kombes Asep menjelaskan, dalam melakukan aksinya tersangka mencari informasi di Instagram tentang calon korban dengan kata kunci kata SD, SMP dan SMA untuk menemukan akun guru dan anak terutama yang tidak di privat.

“Kemudian membuat akun palsu seolah-olah ibu guru korban untuk mengelabui para korban. Selanjutnya membujuk korban agar mengirimkan foto dan video telanjang dengan dalih nilai dan terancam jelek jika menolak,” katanya.

Pria asal Pamekasan Jawa Timur itu melakukan chat pribadi kepada korban melalui dm (direct messages) dan chat di WhatsApp sebagai sarana tersangka memberikan instruksi dan menerima konten pornografi dari korban.

“Motivasi tersangka dipicu dorongan memenuhi hasrat demi kepuasan pribadi dengan hanya memandangi foto video porno anak tersebut. Kemudian pengaruh narkoba dan adanya latar belakang buruk yaitu sering ditolak perempuan sehingga berguru ilmu pengasihan dan pesugihan di beberapa kota,” ucapnya.

Dari tangan tersangka Polisi menyita HP berikut nomor WhatsApp serta beberapa email dan akun di media sosial milik tersangka. “Kami harapkan orangtua untuk mengontrol gadget anak untuk mengetahui aktivitasnya di medsos dan empati tumbuhkan kedekatan emosional, batasi diri dari gadget, luangkan waktu mendengarkan keluhan, pertanyaan dan membuka rahasianya,” ujarnya. (ilham/yp)