Friday, 23 August 2019

Reruntuhan Keraton Surosowan Banten Ditemukan, Diduga untuk Sambut Tamu Kerajaan

Senin, 22 Juli 2019 — 18:42 WIB
Tim Balai Pelestarian dan Cagar Budaya (BPCB) Banten, melakukan eskavasi usai menemukan reruntuhan bangunan Keraton Surosowan

Tim Balai Pelestarian dan Cagar Budaya (BPCB) Banten, melakukan eskavasi usai menemukan reruntuhan bangunan Keraton Surosowan

SERANG – Tim Balai Pelestarian dan Cagar Budaya (BPCB) Banten, menemukan reruntuhan bangunan Keraton Surosowan saat melakukan penggalian di tempat yang mengandung benda purbakala (ekskavasi). Di lokasi itu juga ditemukan sejumlah pecahan keramik dari berbagai dinasti dan pecahan gerabah.

Ekskavasi dilakukan di sebelah utara reruntuhan Keraton Surosowan, Kesultanan Banten, di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten.

“Saat ini kita temukan struktur dari bata dan karang, kemudian ada temuan lepasnya berupa keramik asing dan ada juga pecahan gerabah,” kata Riko Fajrian, arkeolog BPCB Banten, ditemui wartawan di lokasi eskavasi, Senin (22/07/2019).

Temuan lantai dari batu bata merah dan karang itu diduga bagian ruangan Keraton Surosowan yang dipergunakan untuk menerima tamu kerajaan.

Lantai tersebut diduga terhubung hingga pintu masuk Keraton Surosowan, yang kini tinggal reruntuhannya saja. Ekskavasi ini untuk menelusuri jejak sejarah reruntuhan Kesultanan Banten akan berlangsung selama empat bulan lamanya.

“Awal dari struktur yang kita temukan, diduga dahulu sebagai bangunan untuk menyambut tamu kerajaan. Jadi sebelum tamu Sultan masuk ke istana, kemudian Sultan akan bertemu dengan para tamu yang saat ini kita temukan struktur ini,” terangnya.

Sedangkan pecahan keramik yang ditemukan, berasal dari Dinasti Ching di abad XIX, Dinasti Ming antara abad XVII dan XIX, kemudian keramik Eropa asal Belanda dari abad XIX hingga XX.

Pecahan keramik itu kini tengah dibersihkan dan dilakukan perawatan oleh para petugas BPCB Banten di Museum Kesultanan Banten. Sehingga motif dan bentuk asalnya bisa terlihat.

“Kalau pecahan keramik itu misalnya susunan ada yang masih utuh tapi dalam kondisi pecah dan bisa kita rekonstruksi, biasanya akan kita rekonstruksi. Jika pecahan sendiri dan tidak ada temannya, akan kita biarkan seperti itu,” jelasnya. (haryono/yp)