Saturday, 17 August 2019

Reuni Peduli Sosial

Kamis, 1 Agustus 2019 — 7:29 WIB

Oleh Harmoko

ISTILAH reuni kini kian populer, begitu pun agenda reuni seolah tak ada habisnya. Sejak maraknya media sosial seperti facebook, twitter, Instagram, WhatsApp makin memudahkan reuni digelar oleh  sekelompok orang. Kapan saja dan di mana saja.

Reuni tak hanya bertemunya teman sekolah dan teman kuliah atau yang terkait langsung dengan pendidikan. Reuni berlaku juga untuk teman seperjuangan, teman profesi, dalam dunia politik dan bisnis. Maknanya ada reuni di bidang sosial, budaya, politik, bisnis dan perdagangan.

Ini seirama dengan makna reuni seperti disebutkan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa reuni berarti pertemuan kembali (bekas teman sekolah, seperjuangan dan lain sebagainya) setelah berpisah cukup lama.

Sudah banyak yang merasakan manfaat dari keberadaan reuni. Setidaknya mempertemukan kembali teman lama yang sudah terpisah puluhan tahun lalu. Tak heran jika kemudian banyak kelompok menjadikan ajang reuni sebagai agenda tetap tahunan.

Yang menjadi persoalan kemudian jangan lantas reuni menjadi dipaksakan, mengingat kondisi masing – masing teman lama (yang sekarang sudah tampil baru) berbeda, terutama status sosial ekonominya.

Justru dengan reuni hendaknya kita lebih mengembangkan fungsi sosialnya-sebut saja reuni sosial. Misalnya dengan menciptakan beragam aksi sosial yang bersifat “menyantuni” baik kepada internal (anggota alumni) maupun eksternal, (kepada kerabat dekat anggota alumni dan masyarakat sekitar) yang sekiranya perlu disantuni.

Bentuk kepedulian sosial, bisa melalui pembiayaan sebagian dana pendidikan anak yatim, anak- anak kurang mampu. Boleh juga jika  mengacu kepada tempat tinggal/ asal sekolah dulu, para guru yang telah berjasa atau masyarakat sekitar sekolah.

Kita yakini kelompok alumni ini tersebar di mana – mana jika didasarkan pada teman sekelas SD, SMP, SLTA dan teman kuliah. Jumlahnya pun cukup besar, bisa ratusan, ribuan, boleh jadi jutaan kelompok alumni. Belum lagi kelompok alumni profesi.

Kalau saja kelompok alumni ini dikembangkan menjadi kelompok “*reuni peduli sosial*”, betapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Kelompok ini akan menjadi kekuatan besar dalam ikut serta mempercepat terciptanya keadilan dan kesejahteraan sosial sebagaimana tujuan negeri ini didirikan.

Di sisi lain melalui kelompok alumni (reuni), akan terbangun soliditas dan solidaritas sosial yang di era kini sangat dibutuhkan dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Untuk menuju ke sana tidaklah sulit. Secara kultur masyarakat Indonesia suka bertemu bukan karena ada urusan, tetapi semata hubungan pertemanan. Sejak kecil sudah diajari hidup dalam keluarga besar yang penuh kekerabatan. Jadi sudah terbiasa dengan kumpul- kumpul.

Beda di luar negeri yang bertemu karena adanya urusan. Mereka lazimnya hanya mengenal keluarga inti. Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi komunikasi makin memudahkan acara reuni sosial. Lebih melancarkan komunikasi dan pembahasan mengenai agenda aksi sosial.

Banyak manfaat yang didapat dari reuni sepanjang dikemas sedemikian rupa dengan tujuan yang jelas, lebih – lebih dipaketkan dengan aksi peduli sosial bagi kemaslahatan umat.

Sejumlah penelitian juga menyebutkan bahwa dukungan emosi dan perhatian dari teman dapat membantu mengurangi beban masalah untuk mencegah stres dan depresi. Dukungan sosial menyebabkan tekanan darah, gula darah, metabolisme dan stres hormonnya lebih stabil.

Agama juga mengajarkan menyambung kekerabatan akan melapangkan pintu rezeki dan memanjangkan umur kita. Apalagi jika kekerabaran disertai aksi nyata kepedulian sosial, tentu akan lebih bermakna.

Mari kita jalin kekerabatan dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan kepedulian untuk mengatasi segala persoalan diri sendiri dan lingkungan.

Ada pepatah menyebutkan “*Berjalan dengan seorang sahabat di tengah kegelapan lebih baik, ketimbang berjalan sendirian dalam terang*”. (*)