Tuesday, 20 August 2019

8 Tahun Tipu 99 CPNS dan Keruk Rp5,7 Miliar, Pelaku Ditangkap Polisi

Selasa, 13 Agustus 2019 — 16:45 WIB
Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary (kiri), Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono dan Kepala Biro SDM Kemendikbud Agam Bayu Suryanto (kanan), di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019).(firda)

Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary (kiri), Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono dan Kepala Biro SDM Kemendikbud Agam Bayu Suryanto (kanan), di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019).(firda)

JAKARTA – Pelaku penipuan 99 CPNS  ditangkap Subdit I Keamanan Negara (Kamneg) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya .

Puluhan korban ini dijanjikan menjadi  CPNS dari kategori II (Honorer). Tersangka HM alias Bima berhasil diamankan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengungkapkan, tersangka telah melancarkan aksinya sejak Juni 2010.  Berdasarkan pengakuan tersangka, ia berhasil menipu 99 korban dalam kurun waktu delapan tahun.

Para korban berasal dari sejumlah daerah di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, Jawa Barat, dan Banten. Di mana korban yang paling banyak disasar yakni dari DKI Jakarta.

Lebih lanjut Argo mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari empat laporan yang masuk ke Polda Metro Jaya pada November 2015, Juni 2016, Agustus 2018, dan Oktober 2018.

“Jadi dengan adanya laporan tersebut, Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya membentuk tim. Setelah melakukan penyelidikan dan penyidikan, tim menangkap tersangka di rumah kontrakannya di wilayah Pulogadung,” ujar Argo dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019).

“Saat ditangkap, tersangka sedang bermain kartu,” sambungnya.

Untuk meyakinkan para korbannya, tersangka mengaku sebagai PNS dari Sekretariat Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Non-formal dan Informal. Tak sekedar mengaku-ngaku saja, tersangka juga mengantongi sebuah tanda pengenal PNS.

Selanjutnya, tersangka menipu korban dengan cara  menjanjikan kepada para korban yang merupakan karyawan honorer untuk diangkat menjadi PNS. Apabila tidak lulus CPNS, maka uang akan dikembalikan seluruhnya.

Namun harga yang ia patok kepada korbannya berbeda-beda, bergantung pada penempatan nantinya, yakni Rp. 70 juta untuk penempatan di luar DKI Jakarta dan Rp. 100 juta untuk penempatan di DKI Jakarta.

Setelah korban percaya dan mengirimkan sejumlah uang yang disepakati, tersangka dan korban akan bertemu di Lantai III Gedung E Kantor Dirjen Pendidikan Formal dan Informal Kemdikbud.

“Dari pertemuan itu, korban  akan percaya dia adalah karyawan dari Kemdikbud. Korban akan diperlihatkan SK CPNS palsu dan rekening palsu (saat bertemu tatap muka). Ini juga  untuk meyakinkan korban bahwa uang korban akan dikembalikan jika korban tidak diterima menjadi PNS,” jelas Argo.

Ia menjelaskan kalau tersangka mendapatkan data korban dari internet. Tak hanya itu saja, tersangka juga menggaet korbannya dari omongan korban lainnya.

“Data (karyawan honorer) bisa dilihat di internet, dia juga menerima dari mulut ke mulut korban bahwa dia bisa mengusahakan menjadi PNS,” ungkap Argo.

Dari penangkapan tersebut, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, diantaranya empat lembar contoh petikan surat keputusan PNS, surat hasil pemberkasan CPNS tahun 2016, surat pengantar palsu dari kepala BPN dan 128 lembar kwitansi tanda bukti penerimaan uang tersangka HM dengan total Rp. 5,7 miliar.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP tentang penipuan dan atau penggelapan, dengan ancaman hukuman pidana penjara selama 4 tahun. (firda/tri)