Saturday, 17 August 2019

Agen Perubahan

Rabu, 14 Agustus 2019 — 7:01 WIB

Oleh: Harmoko

SERING terdengar ungkapan perasaan lewat kata mutiara atau lirik lagu yang menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah. Penuh kenangan yang sulit terlupakan.

Masa remaja dikatakan para ahli sebagai tahapan pencarian identitas diri. Sering dikatakan masa transisi dari anak- anak menuju dewasa.

Di sinilah pembentukan karakter sebagai manusia sebenarnya. Dalam arti yang lebih luas lagi masa remaja adalah masa, atau saat, pembentuk identitas bangsa.

Harapan bangsa terletak di tangan mereka yang saat ini berusia antara 12 sampai dengan 19 tahun sebagaimana batasan usia remaja seperti dirumuskan Kementerian Kesehatan RI. Mereka generasi yang lahir pada tahun 2.000 an,
di era sekarang disebut Generasi Z yang saat ini masih bersekolah di SLTP hingga awal kuliah.

Tentu remaja sekarang beda dengan sebelumnya. Beda zaman akan berbeda
karakter dalam bersikap, ketika merespons situasi lingkungan. Remaja sekarang lahir dan dibesarkan di era digital, zaman yang dipenuhi alat komunikasi serba canggih – sering disebut *digital native*.

Dunia seolah semakin kecil. Dengan sentuhan jari tangan, bisa berkomunikasi kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja tanpa batasan jarak dan waktu serta usia.

Dengan kecanggihan teknologi,remaja kini memiliki wawasan yang lebih luas dan kemampuan multitasking yang hebat, serta jaringan relasi sangat luas tanpa batas.

Buahnya, remaja masa kini, atau “remaja now” lebih berpikiran luas, berpikir kritis, praktis, idealis dan memiliki kewaspadaan yang
tinggi. Lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dan, masih banyak segi keunggulan lainnya.

Ini kemajuan yang patut kita syukuri, di samping ada hal yang perlu kita antispasi agar pola hidup yang serba teknologi jangan sampai kemudian terbawa arus pusaran teknologi itu sendiri. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah sebuah kebutuhan. Yang diperlukan adalah bagaimana bijak menggunakannya.

Hasil studi menengarai remaja era kini lebih asyik dengan gawainya (gadget) ketimbang lingkungan sekitarnya. Lebih peduli dengan dunia maya, ketimbang realita yang terjadi di lingkungannya. Ini gaya hidup yang sulit dihindari, tetapi yang perlu difilter adalah jangan sampai sikap anti sosial, tidak lagi peduli lingkungan sosial
menjadi budaya.

Kita meyakini masih sangat terbuka peluang mengarahkan remaja kita menjadi generasi penerus yang berkarakter dan berkepribadian Indonesia. Pemuda yang berkualitas, cerdas dan berintegritas, serta berakhlak mulia sebagaimana amanat undang – undang.

Begitu pentingnya peran remaja bagi pembangunan bangsa, membuat para
petinggi negara di dunia menaruh perhatian khusus. Utamanya mencegah agar tidak terjerumus kepada hal – hal yang bersifat negatif.

Edukasi perlu dilakukan secara terus menerus agar senantiasa sejalan dengan masa remaja, era untuk mencari jati diri. Tentu edukasi tidak boleh dipaksakan sesuai kehendak kita para orangtua,
namum harus diselaraskan dengan karakter remaja yang pada dasarnya tidak suka diatur, apalagi digurui.
Di sisi lain, masa remaja sendiri adalah masa yang penuh tantangan besar.

*Ke dalam*, mereka menghadapi dirinya sendiri yang sedang mencari jati diri, dan *keluar* harus menghadapi dunia dengan tantangan yang begitu beragam. Kita perlu bijak dalam mengedukasi dengan menempakannya sebagai sahabat.
Bahkan, memberikan penghargaan sebagai apresiasi tentang eksistensi mereka.

Tak berlebihan sekiranya dunia pun memberikan hari istimewa bagi remaja yang disebut “*International Youth Day* atau Hari Remaja Internasional” yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus.

Ini tak lain sebagai pengakuan, sekaligus upaya untuk terus menerus
mengingatkan para remaja agar tidak terbawa arus pergaulan tak sehat.
Kita tentu sepakat, remaja berperan besar sebagai agen perubahan.
Tanggung jawab kita yang utama bukan hanya memberi peringatan tetapi juga memberi pengakuan dan perlakuan positif terhadap para remaja itu sendiri. Pencerahan dan pengarahan memang perlu, tetapi bagi remaja lebih membutuhkan keteladanan para orangtua.(*)