Saturday, 17 August 2019

Daging Kurban Bentuk Olahan, Jadi Seperti Orang Akikah

Rabu, 14 Agustus 2019 — 8:44 WIB
Warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Timur, menikmati daging kurban siap saji olahan koki hotel berbintang. (deny)

Warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Timur, menikmati daging kurban siap saji olahan koki hotel berbintang. (deny)

DAGING korban lazimnya diberikan dalam bentuk mentahan. Tapi Gubernur DKI Anies Baswedan bikin kejutan, pada Idul Adha 1440 H kemarin daging kurban dari Pemprov DKI ada yang dibagikan dalam bentuk sudah matang. Tak melanggar syariah memang, tapi jadi ribet.

Gubernur Anies Baswedan memang suka bikin kejutan, jika tak mau disebut bikin program yang aneh-aneh. Dulu menyambut Asian Games 2018 di Jakarta, dibangunlah monumen bambu “Getah Getih” senilai Rp550 juta.

Pada Idul Adha 1440 H ini Pemprov DKI mengumpulkan hewan kurban berupa 189 ekor sapi, 306 kambing, dan satu ekor kerbau. Dagingnya tak hanya dibagikan dalam bentuk mentahan, tapi ada juga yang dalam bentuk olahan. Penerima tak perlu lagi memasak, tinggal modal mulut langsung bisa disantap, sebab lengkap dengan nasi dan sayur mayur, tentu saja termasuk segelas air mineral sebagai penggelontor.

Ini kejutan luar biasa dari Gubernur Anies. Gubernur-gubernur sebelumnya tak pernah kepikiran sampai sebegitunya. Hanya pengganti Ahok inilah yang sangat visioner, demi memudahkan warga kota menikmati daging kurban.

Untuk memanjakan para mustahik daging kurban, Gubernur Anies bekerjasama dengan Hotel Borobudur menggelar program “Dapur Kurban”. Selama Idul Adha termasuk di hari tasyrik, setiap pagi Pemprov DKI mengirim 320 Kg daging sapi ke hotel itu. Beberapa jam kemudian sudah menjadi menu siap saji sebanyak 800 porsi, yang siap dibagikan pada para mustahik.

MUI tak mempermasalahkan gebrakan Gubernur Anies Baswedan. Sebab berdasarkan kajian Fikih, hukum daging kurban bentuk olahan adalah: mubah (boleh). Dalam kondisi tertentu, maksudnya tidak umum, dipersilakan saja.

Para mustahik di Kampung Melayu, Kebon Sirih dan Tanah Tinggi menerima dengan senang 800 porsi daging kurban itu. Tapi karena selera setiap lidah tidak sama, ada yang mengomentari terlalu asin. Ada juga yang berpendapat gebrakan Gubernur Anies ini seperti orang kikahan partai besar.

Namanya juga diberi, tak etislah kalau protes. Tapi kalau bisa mending dibagikan dalam bentuk seperti biasanya saja. Dalam kondisi daging mentah, terserah mustahik mau dibikin apa. Mau dibikin rendang, gule, atau sate dan tongseng, terserah mustahik. (gunarso ts)