Tuesday, 20 August 2019

Lebih Percaya Diri

Kamis, 15 Agustus 2019 — 6:52 WIB

Oleh: Harmoko

PROKLAMASI dan deklarasi, meski merupakan padanan kata, tetapi beda arti dalam konteks sejarah berdirinya negeri ini.

Proklamasi adalah pemberitahuan, permakluman atau pengumuman resmi kepada seluruh rakyat, bahkan seluruh manusia di dunia, bahwa kemerdekaan Republik Indonesia telah resmi pada tanggal 17 Agustus tahun 1945.

Sejarah mencatat Proklamasi Kemerdekaan dinyatakan dan ditanda-tangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta serta dibacakan oleh Soekarno pada hari Jumat pukul 10:00, di Jl Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat.

Sedangkan deklarasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pernyataan jelas dan ringkas.

Dalam konteks kemerdekaan, pernyataan kemerdekaan tersebut kemudian “dideklarasikan” secara legal melalui Pokok Pikiran dalam Pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.

Dalam beberapa hari lagi, kita memasuki tahun ke-74 Proklamasi Kemerdekaan RI. Banyak makna yang terkandung di dalamnya, jika kita ingin mengurai tentang proklamasi kemerdekaan yang dikaitkan dalam kehidupan sehari – hari di era kini.

Salah seorang proklamator, yakni Soekarno sejak awal telah mengingatkan “*Merdeka hanyalah sebuah jembatan, walaupun jembatan emas.., di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa.., satu ke dunia sama ratap sama tangis!*”

Maknanya meski kemerdekaan sebuah peluang besar mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat, tetapi cita- cita negeri ini tidak lantas dapat terengkuh begitu saja. Masih ada perjuangan lebih lanjut untuk mengisi apa yang disebut kemerdekaan itu.

Salah satu sikap mental yang perlu tertanam pada bangsa yang merdeka adalah kepercayaan diri. Percaya kepada kemampuan diri karena memiliki sumber daya alam yang lebih dari memadai. Percaya diri bahwa produk kita lebih berkualitas ketimbang negara lain. Percaya diri bahwa kita mampu bersaing dengan negara lain karena memiliki jumlah SDM yang besar dan berkualitas.

Para pendiri negeri ini, *founding fathers*, sejak awal kemerdekaan sudah menyadari bahwa salah satu kelemahan bangsa kita adalah kurangnya ” rasa percaya diri”.

Sikap ini menular kepada generasi berikut hingga kini dalam format dan pola yang tentunya berbeda sesuai dengan eranya.

Contoh paling sederhana adalah munculnya “kepercayaan” bahwa produk impor pasti bagus, adalah satu sikap yang perlu dievaluasi. Sebab, tidak semuanya dan selamanya barang impor itu pasti bagus. Ternyata banyak produk impor yang berada di bawah kualitas produk dalam negeri.

Kualitas hendaknya tidak dilihat dari harga dan asal barang. Apalagi parameter kualitas cukup beragam. Mulai dari daya tahan masa pakai, bahan atau materi yang dipakai, dan juga mutu kemasan yang ramah lingkungan atau tidak. Lebih – lebih ramah lingkungan sekarang sudah menjadi salah satu acuan dunia dalam hal menentukan produk itu bisa disebut berkualitas atau tidak.

Edukasi bahwa produk lokal ramah lingkungan adalah yang berkualitas perlu secara terus menerus dilakukan, khususnya kepada generasi digital. Ini menjadi kekuatan kita, selain meningkatkan rasa percaya diri, juga sumber kemakmuran dalam negeri.

Percaya diri bahwa kita sederajat, bahkan lebih unggul, dibanding dengan bangsa lain menjadi poin penting untuk memaknai arti proklamasi kemederkaan. Prasyarat penting untuk memajukan negeri.

Sebab, makna proklamasi dari tinjauan aspek sosiologis, merdeka itu tak hanya fisik, juga rasa dan hati nurani.

Boleh jadi karena negeri kita pernah dijajah ratusan tahun lamanya, tidak hanya fisik, tapi juga psikis menjadikan kita terkadang merasa “rendah diri” jika dibandingkan dengan bangsa lain, terutama dari negara yang kita anggap maju. Tak heran bila acap terucap “Kita belum apa- apa dibandingkan mereka.”

Sikap seperti ini tidak dapat disalahkan, tetapi keliru besar jika menjadikan kita pasrah pada keadaan.

Kita harus berbuat! Membangun negeri ini dengan kemampuan yang kita punyai. Sesuai tugas dan tanggung jawabnya, selaras profesinya masing -masing.

Melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar, tanpa menyalahgunakan kewenangan yang dimiliki, tanpa kolusi dan korupsi, itu sudah ikut andil dalam mengisi kemerdekaan.

Dengan proklamasi kemerdekaan hendaknya kita bangga dengan kedaulatan negeri sendiri. Mari kita kembangkan semangat percaya diri bahwa kita sederajat dengan bangsa lain.

Bung Karno berpesan “*Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.*