Sunday, 22 September 2019

Sumur Jubleg, Tempat Buang Senjata Tentara Veteran

Minggu, 18 Agustus 2019 — 5:04 WIB
Sumur Jubleg, tempat buang senjata tentara veteran. (taryani)

Sumur Jubleg, tempat buang senjata tentara veteran. (taryani)

JAKARTA – Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI mengingatkan William Saputra (28), seoramg pemuda kelahiran Desa Jayamulya, Kroya, Indramayu, Jabar, pada peristiwa dibuangnya beberapa pucuk senjata api bekas  digunakan kakeknya,  tentara veteran ke Sumur Jubleg.

JAKARTA – Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI mengingatkan William Saputra (28) pada cerita dibuangnya beberapa pucuk senjata api bekas yang digunakan kakeknya selaku  tentara veteran ke Sumur Jubleg.

Sumur Jubleg terletak di Blok Cipedang Jubleg, Desa Jayamulya, Indramayu, Jawa Barat. William juga warga di situ. Diameter pada permukaan sumur itu cukup besar sekitar 4 meter dan di bawahnya mengerucut. Karena itu disebut Sumur Jubleg.

Sumur dibuat pada jaman kolonial Belanda. Dindingnya setebal 60 Cm, terbuat dari pasangan batu kali adukan campuran pasir, gilingan bata merah dan kapur. Hingga saat ini sumur yang konon ditunggu mahluk gaib berwujud lelaki tua itu sebelumnya penuh dengan sampah.

Tahun 2016 sampah yang menumpuk di sumur hingga ke atas itu  dikuras William Saputra secara sukarela. “Pengurasan sumur tua ini sepenuhnya inisiatip saya, karena prihatin melihat kondisinya mati tertimbun sampah hingga ke atas,” ujar William Saputra.

“Saya sendiri yang turun ke bawah membersihkan sampah. Setelah tenaga tidak kuat melempar sampah ke atas barulah saya minta pertolongan para pemuda,”  katanya.

Bersama para pemuda, tumpukan sampah berhasil diangkat pada kedalaman 7 meter. Meski, dia yang turun ke bawah menguras sampah, namun tidak dapat memastikan berapa meter kedalaman sumur itu.

Air Sumur Jubleg pada jaman Belanda digunakan mengisi ketel lokomotif kereta api. Maklum kereta api pada jaman itu  bermesin uap.  “Dulu di Blok Rehobot ini berdiri stasiun KA yang ramai dan besar mengalahkan stasiun KA Haurgeulis,”  katanya.

William Saputra bangga setelah tumpukan sampah dibersihkan sumur itu mengeluarkan air yang bening. Meski air sumur itu bening namun warga sekitar enggan memanfaatkan airnya,  karena hampur  tiap rumah warga  Blok Cipedang Jubleg maupun Blok Rehobot Desa Jayamulya punya sumur sendiri, menggunakan pompa listrik.

Ia masih penasaran ingin mencari beberapa pucuk senjata api yang dibuang kakek dan rekan pejuang kemerdekaan di dasar sumur. Kelak jika senjata api itu ditemukan, senjata api itu tidak akan dimiliki sendiri,  tapi akan disumbangkan ke museum di Kota Indramayu untuk bukti bahwa di Desa Jayamulya dulu ada pejuang kemerdekaan.

William Saputra masih ingat cerita bapaknya tentang alasan kenapa kakek dan rekannya membuang senjata api di sumur tua.

“Kata bapak saya, kakek membuang senjata api di sumur itu supaya tidak ada peperangan lagi yang menimpa anak cucunya. Berperang itu sangat tidak enak alias sengsara.  Nyawa jadi taruhan. Keringat dan darah seperti tak ada harganya,” katanya menirukan cerita bapaknya.

Pemuda yang hanya lulus SD dan sempat merantau selama belasan tahun di Jakarta, tepatnya di Terminal Kampung Rambutan dan bekerja serabutan, jadi pedagang asong, kenek angkot itu bercita-cita ingin menjadi pejuang lingkungan. Pejuang lingkungan yang  bekerja tanpa pamrih, seperti halnya pejuang kemerdekaan  jaman dahulu. (taryani/win)

Terbaru

Muazin Ahmad Bin Saad, meninggal usai azan Isya di Masjid Annur Felda Teloi Timur, Malaysia.(facebook)
Minggu, 22/09/2019 — 10:06 WIB
Muazin ini Meninggal Usai Kumandangkan Azan Isya
Kue nastar.(facebook)
Minggu, 22/09/2019 — 9:09 WIB
Yuk Bikin Kue Nastar, Ini Resepnya!