Friday, 20 September 2019

Hanya Rp150 Juta

Kadishut DKI: Gabion Bukan Karya Seni Tapi Hiasan Kota Pengganti Getah Getih

Jumat, 23 Agustus 2019 — 13:48 WIB
Gabion, pengganti patung Getah Getih di Bundaran Hotel Indonesia.( toga)

Gabion, pengganti patung Getah Getih di Bundaran Hotel Indonesia.( toga)

JAKARTA –  Kepala Dinas Kehutanan Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Suzi Marsitawati mengatakan instalasi gabion (bronjong batu) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat merupakan hiasan kota semata bukan karya seni seperti bambu getih getah yang semula dipasang di tempat itu.

Jika getih getah menghabiskan dana mencapai setengah miliar lebih atau Rp550 juta, gabion hanya dianggarkan senilai Rp150 juta saja.

“Saya tegaskan bahwa gabion itu bukan hasil seni tapi hiasan kota semata,,” kata Suzi dikonfirmasi wartawan, Jumat (23/8/2019).

Pemasangan ornamen itu, lanjut Suzi, merupakan kewajiban Dinas Kehutanan dalam mempercantik kota. Pemilihan gabion karena dinilai sederhana dan bisa dibongkar sewaktu-waktu diganti dengan ornamen lain sesuai kebutuhan.

“Jadi kalau kita menggunakan gabion,  kalo kita lihat gabion itu kan keranjang.  Kenapa kita pilih itu karena itu faktor yang sangat sederhana yang kita bisa rancang,” kata dia.

“Bisa kita bongkar kapan saja karena tergantung kebutuhan. Tiba-tiba bulan depan, 3 bulan lagi, atau 6 bulan kita event kenegaraan atau kegiatan khusus itu kan sifatnya dekoratif. Kita mau pertahankan 1 atau 2 tahun tergantung kebutuhan,” imbuh Suzi.

Dishut sendiri selalu mendesain kota dengan berbagai hiasan atau ornamen sesuai kebutuhan dan diselaraskan dengan tema, misalnya seperti menyambut hari kemerdekaan atau hari ulang tahun Jakarta. Untuk saat ini, selain gabion Suzi mengaku belum ada konsep lain.

“Kita konsepnya karena ornamen kota kita bikin yang menarik sesuatu yang beda. Kita konsepkan gabion ini kita ambil dari konsep natural kan konsep bronjong natural untuk penyerapan air di sungai. Jadi kita membawa natural itu ke kota. Dan itulah hasil kreatifitas kami di Dinas Kehutanan jadi tidak ada unsur seni,” tandas Suzi. (yendhi/tri)