Thursday, 19 September 2019

Ambulans Puskesmas Tolak Angkut Jenazah, Walikota Tangerang Minta Maaf ke Keluarga

Minggu, 25 Agustus 2019 — 18:06 WIB
Walikota Tangerang Arief R Wismansyah (kemeja batik) mengunungi rumah duka keluarga husen.

Walikota Tangerang Arief R Wismansyah (kemeja batik) mengunungi rumah duka keluarga husen.

TANGERANG – Walikota Tangerang Arief R Wismansyah menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan anak buahnya yang diskriminatif terhadap keluarga Muhammad Husen (8). Pernyataan tersebut disampaikan Arief kepada Maysaroh (37), ibu korban.

“Saya atas nama Pemerintah Kota Tangerang menyampaikan permohonan maaf atas kekurangsigapan petugas puskesmas,” ucap Arief usai melakukan takziah di rumah duka di Kampung Kelapa, Kelurahan Kelapa Indah, Kota Tangerang, Minggu (25/8/2019).

Jenazah Husen itu terpaksa digotong oleh pamannya dengan berjalan kaki lantaran pihak Puskesmas Cikokol ogah mengantar korban tenggelam Sungai Cisadane, dengan alasan mematuhui standar operasional prosedur (SOP) mobil ambulans. Peristiwa yang mengunggah hati itu viral dan menuai kecaman dari masyarakat Kota Tangerang.

Selain menyampaikan permohonan maaf, Arief juga menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Walikota mengatakan telah memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan Dr Liza Puspadewi untuk segera SOP mobil ambulans untuk kondisi kegawatdaruratan.

“Saya sudah perintahkan tadi pagi, saya telfon langsung Kepala Dinas Kesehatannya buat besok saya ingin semua sudah diperbaiki dan bisa disosialisasikan ke seluruh puskesmas dan juga armada kesehatan lainnya yang ada di Kota Tangerang,”

Kondisi gawat darurat, lanjut Arief, adalah termasuk kejadian kematian dan untuk mengirim jenazah akibat kecelakaan. Selain itu, Arief juga akan melakukan optimalisasi mobil jenazah yang ada di seluruh puskesmas Kota Tangerang.

“Untuk kegawatdaruratan, saya instruksikan untuk segera di revisi SOP-nya, jadi bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan masyarakat,” tegas Arief.

Tak hanya itu, Arief juga akan meminta Dinas PU untuk melakukan pengamanan di sekitar bantaran Sungai Cisadane dan juga meminta Kementerian PUPR untuk membangun turap di sepanjang Sungai Cisadane sehingga tidak lagi menimbulkan korban jiwa.

“Kita akan meminta pengamanan kepada Dinas PU misalnya di pagar dulu atau seperti apa supaya tidak ada korban lagi,” tegasnya.

“Kita juga akan bersurat ke Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane untuk menindaklanjuti penurapan supaya jangan ada lagi korban-korban lain dipinggir Sungai Cisadane yang mengakibatkan kerugian buat masyarakat,” pungkasnya.

(Baca: Keluarga Husen Kecewa Terhadap Pelayanan RS di Kota Tangerang dan Call Center 112)

Suasana duka masih menyelimuti rumah kontrakan Maysaroh. Ibu beranak tiga ini masih tak percaya anak periangnya telah pergi untuk selama-lamanya.

“Kami (keluarga) sangat merasa kehilangan,” kata perempuan 37 tahun ini.

Airmata Maysaroh masih nampak mengalir dari kelopak matanya. Maysaro mengaku masih membayang-bayangi anaknya yang tercatat sebagai siswa SDN Cikokol Kota Tangerang. “Anak saya periang dan rajin belajarnya,” ungkapnya.

Meskipun masih merasa kecewa Maysaroh mengaku tidak mempersoalkan tindakan diskriminatif petugas puskesmas yang ogah mengantar jenazah Husen. Namun ibu tiga anak ini berpesan bahwa pelayanan mobil angkutan jenazah harus selalu tersedia di Kota Tangerang.

“Sebenarnya sebagai keluarga tentu kecewa, harusnya ambulans melayani,” pungkasnya. (imam/yp)