Sunday, 22 September 2019

Produk Masyarakat

Senin, 26 Agustus 2019 — 8:38 WIB

Oleh Harmoko

LEPAS dari perubahan status kelembagaan yang menyertai perjalanannya sepanjang 57 tahun, Televisi Republik Indonesia tak bisa melepaskan diri dari arah perjuangannya. Apa pun status yang disandang, TVRI merupakan media yang didirikan oleh negara untuk kepentingan bangsa dan negara.
Logo boleh berganti, tetapi nama dan jatidiri tetaplah “TVRI” sebagai media pemersatu bangsa.

Di era digital seperti sekarang ini, peran Televisi RI semakin dibutuhkan sebagai filter ( penyaring) informasi menyusul semakin deras dan bebasnya arus informasi dari segala penjuru dalam dan luar negeri.
Kita sadar tidak semua informasi yang masuk sesuai dengan adat dan budaya bangsa kita. Tidak selamanya sejalan dengan karakter dan jati diri bangsa Indonesia.

Tak jarang informasi yang begitu mudah, cepat dan bebas tersiar melalui beragam media, termasuk media sosial, dapat mengusik kenyamanan kehidupan bermasyarakat. Boleh jadi informasi yang tersebar adalah benar adanya, tetapi karena tidak terfilter (tersaring ) dengan baik, bisa mengudang ketersinggungan. Jika yang benar saja, tak jarang, atau acap, menimbulkan gesekan, apalagi info yang tidak benar, dan sering disebut “hoax”.

TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang didirikan oleh negara semakin dituntut kehadirannya dalam menyebarluaskan informasi yang bersifat netral dan menyejukkan  suasana. Netral tidak harus memiliki arti tidak berpihak (tidak ikut membantu salah satu pihak), tetapi dapat juga bermakna menetralkan informasi yang cenderung tidak memihak. Dengan kata lain, menempatkan masalah pada tempatnya untuk mencegah bias informasi. Sementara kita tahu bias informasi yang berakibat terjadinya multi tafsir dapat melahirkan beragam prasangka.

Di sinilah perlunya kontrol atas informasi yang bukan membatasi, tetapi mencari  bagaimana cara menyeimbangkan informasi untuk menghindari distorsi.

Kini merebak informasi produk masyarakat yang sekiranya dapat dijadikan media penyeimbang.

Di era digital setiap orang dengan mudah dapat memproduksi informasi hanya dengan gawai (gadget) di tangan. Informasi produk  masyarakat tak hanya berupa teks, gambar, juga video streaming. Jika dikemas sedemikian rupa, tidak hanya akan menjadi inspirasi warga yang lain, tetapi juga menjadi media penyeimbang atas berita-berita hoax.

Sudah cukup banyak informasi produk masyarakat yang sangat positif dan inspiratif. Sebut saja video yang menggambarkan sikap saling toleransi tanpa melihat latar belakang kesukuan, etnis, agama di sebuah perkampungan, menjadi viral karena beredar saat dibutuhkan.

Video natural penyejuk suasana semacam ini yang hendaknya menjadi salah satu kemasan televisi pemerintah. Ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, di manaTVRI ditetapkan sebagai Lembaga Penyiaran Publik.

Patut diapresiasi sekiranya TVRI yang 24 Agustus kemarin berusia 57 tahun, mulai menayangkan informasi produk masyarakat dengan mengangkat kearifan lokal untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya bangsa.

Video produk kaum milenial yang mengangkat sikap toleransi, saling peduli dan bergotong royong demi penguat kesatuan dan persatuan bangsa. Dan, masih banyak lagi informasi produk kelompok masyarakat yang penuh inovasi dalam membangun ketahanan nasional yang saat ini kian dibutuhkan.

Persoalannya terletak kepada bagaimana Tevisi RI membuka akses seluas mungkin bagi kelompok masyarakat dengan maksud ikut berpatisipasi dan berkolaborasi dalam program tayangan seperti diharapkan.

Saatnya program interaksi tak sebatas kemasan diskusi, dialog, telewicara,  tetapi menghadirkan informasi hasil rekaman (cipta karya) warga masyarakat dari seluruh pelosok negeri.

Program interaksi semacam ini dapat mengedukasi masyarakat untuk:
*Pertama*, terus berlomba menciptakan kreasi dan inovasi pengembangan seni dan budaya bangsa.
*Kedua*, menumbuh- kembangkan potensi lokal (daerah) untuk memperkuat ketahanan nasional.
*Ketiga*, kian merekatkan ikatan sosial  sebagai modal dasar memperkokoh kesatuan dan persatuan.
Dan di sisi lain menjadikannya keunggulan program, karena aktivitas masyarakat yang direkam sendiri oleh masyarakat, sedang digandrungi publik.
Tidak sedikit rekaman yang sederhana dan natural menjadi viral.
Ini mengindikasikan kemasan program yang natural, bisa menjadi lebih diminati kaum milenial, ketimbang tayangan yang mengumbar obsesi, tanpa solusi sama sekali.

Kuncinya terletak pada bagaimana mengemas program tayangan sesuai era kini, tanpa meninggalkan tugas utama TVRI untuk memberikan pelayanan informasi, pendidikan dan hiburan yang sehat, kontrol dan sekaligus jadi perekat sosial serta pelestari budaya bangsa sebagaimana kehendak Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia.Serta tidak kalah penting, perannya sebagai media pemersatu bangsa sepanjang masa. (*)