Sunday, 22 September 2019

Lama Dijadikan Peluru Penyinyir Akhirnya Esemka Terwujud Juga

Sabtu, 7 September 2019 — 6:47 WIB
mobnas

ESEMKA merk mobil rakitan memang identik dengan Jokowi, bahkan ada yang menyebut kendaraan politiknya sejak jadi Walikota Solo. Meski Jokowi sekedar memberi semangat pada anak-anak bangsa, tak urung dianggap program dia. Dalam Pilpres 2019 tempo hari Esemka dijadikan peluru para penyinyir. Tapi akhirnya Esremka terwujud juga.

Beberapa waktu lalu mobil kepresidenan mogok, maka Yang Mulia Wakil Ketua DPR Fadli Zon langsung berkomentar, “Kenapa tak pakai mobil Esemka saja?” Ini bukan komentar tulus, tapi sekedar sindiran karena mobil nasional yang digagas Jokowi tak kunjung mengaspal.

Cita-cita anak bangsa mampu memproduksi mobil sendiri, bukan eranya Jokowi saja. Jaman Orde Baru, Tommy Soeharto bikin Timor, meski hanya modal menempelkan merk saja,  karena aslinya mobil itu buatan Korsel. Pernah ada juga Mazda MR (Mobil Rakyat), tapi semuamya kemudian sekedar coba-coba.

Tahun 2011, ketika Jokowi menjadi Walikota Solo, dia menyemangati anak-anak muda peserta didik SMK (Sekolah Menengah Kejuruaan) yang mencoba bikin perlengkapan mobil, bekerja sama dengan bengkel Kiat di Klaten. Untuk memotivasi para peserta didik SMK tersebut, mobil rakitan itu dijadikan kendaraan dinas Walikota, meski hanya dua hari, karena ketidaklengkapan dokumennya.

Ketika Jokowi mau jadi Gubernur DKI dan Presiden, isu Esemka dijadikan peluru para penyinyir, sampai Pilpres 2019 tempo hari.  Pendukung Capres 01 Said Didu sampai bikin polling di medsos bahwa mobil Esemka hanya pencitraan. Fadli Zon juga menilai Esemka sekedar monumen kebohongan nasional. Meski Pilpres sudah usai, dia masih juga mengaitkan mobil presiden dengan Esemka.

Jumat kemarin, tiba-tiba Presiden Jokowi di Boyolali meresmikan pabrik mobil Esemka, yang diproduksi PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK). Jokowi menjajal Esemka jenis pikap itu dengan dikemudikan Memperin Airlangga Hartarto. Sementara mobil yang komponen dalam negerinya 20-80 persen ini hanya dipasarkan di Jawa dulu.

Mobil itu “hanya” seharga Rp150 juta. Presdir PT SMK Edy Wirajaya menegaskan, Esemka bukan mobil nasional, hanya kreasi anak bangsa, karena 100 persen modal swasta. Paling tidak, kehadiran Esemka bisa menghentikan “lambe nggambleh” kaum penyinyir. (gunarso ts)