Monday, 16 September 2019

Dilarang Nonton Sepakbola di Stadion, Perempuan Iran Tewas Bakar Diri di Pengadilan

Rabu, 11 September 2019 — 15:35 WIB
Penggemar sepak bola Iran mulai berkampanye untuk meminta agar perempuan diperbolehkan masuk ke dalam stadion dan menonton pertandingan.(Getty Image)

Penggemar sepak bola Iran mulai berkampanye untuk meminta agar perempuan diperbolehkan masuk ke dalam stadion dan menonton pertandingan.(Getty Image)

IRAN – Dilarang menonton sepakbola di stadion, seorang perempuan Iran  tewas sesudah membakar diri di pengadilan  seminggu yang lalu.

Perempuan ini ditangkap dan diadili karena menyamar sebagai laki-laki untuk menonton sepak bola.

Persidangannya di Teheran ditunda, dan ia membakar diri di depan pengadilan.

Pihak berwenang Iran melarang perempuan menonton sepak bola di stadion.

Kisah perempuan ini diikuti oleh warga Iran dan memunculkan tagar “gadis biru” mengacu pada tim kesayangan si perempuan, Esteqlal yang bermarkas di Teheran.

BBC melaporkan, perempuan yang dikenal sebagai Sahar (bukan nama sebenarnya) ini ditangkap pada bulan Maret lalu ketika mencoba masuk ke stadion sepak bola dengan menyamar sebagai pria.

Ia ditahan selama tiga hari dan dibebaskan dengan jaminan dan menunggu selama enam bulan untuk persidangan kasusnya.

Namun ketika ia ke pengadilan, persidangannya ditunda karena sang hakim punya keperluan keluarga secara mendadak.

Akhiri larangan

Sahar kemudian kembali ke pengadilan untuk mengambil telepon genggamnya, dan menurut beberapa laporan ia secara tak sengaja mendengar seseorang berkata bahwa ia bisa dihukum enam bulan hingga dua tahun penjara akibat perbuatannya.

Sahar lalu membakar diri di depan gedung pengadilan, dan kemudian meninggal di rumah sakit.

Sejak tahun 1981, perempuan di Iran dilarang masuk ke dalam stadion untuk menyaksikan cabang olahraga pria.

Kebijakan ini sempat dicabut sementara tahun lalu untuk memperbolehkan perempuan menonton pertandingan Piala Dunia yang disiarkan lewat streaming di stadion di Iran.

 Pihak otorita sepak bola FIFA memasang tenggat tanggal 31 Agustus yang memaksa Iran untuk memperbolehkan perempuan masuk ke dalam stadion, tetapi pemerintah Iran tidak bisa memastikan dipenuhinya tenggat tersebut.

“Kami sadar akan tragedi ini dan sangat menyesalkannya,” kata pernyataan tertulis FIFA.

“FIFA menyampaikan duka cita kepada keluarga dan teman-teman Sahar dan menekankan lagi pentingnya seruan kami kepada pihak berwenang Iran untuk menjamin kemerdekaan dan keamanan perempuan yang terlibat dalam hal ini untuk mengakhiri larangan perempuan masuk ke dalam stadion”.

Philip Luther dari Amnesty International menyebut kasus ini “menyedihkan” dan kematian ini memperlihatkan dampak dari “penghinaan terhadap hak perempuan” yang dilakukan oleh Iran.

Awal bulan ini, warga Iran memulai kampanye daring yang ditujukan kepada organisasi olahraga untuk melarang Iran ikut serta dalam kompetisi internasional untuk menghentikan campur tangan negara dalam olahraga.(tri)