Sunday, 22 September 2019

William Saputra, Relawan Penjaga Pintu KA Selamatkan Ribuan Nyawa

Rabu, 11 September 2019 — 8:08 WIB
William Saputra. (taryani)

William Saputra. (taryani)

WILLIAM Saputra, pemuda kelahiran Desa Jayamulya, Kecamatan Kroya, Indramayu,  Jawa Barat,  sejak kecil bercita-cita ingin menjadi  pejuang lingkungan demi   membantu masyarakat. Cita-citanya seakan mewarisi kakeknya, almarhum William, seorang veteran pejuang.

Sebagai seorang veteran  pejuang, pemuda 18 tahun ini memiliki sepucuk senjata api untuk berperang melawan musuh. Usai berperang senjata api bekas pakai kakeknya itu tidak diwariskan ke anak maupun cucunya, melainkan  dibuang ke  Sumur Jubleg Desa Jayamulya. Alasannya, kata William Saputra, kakek   tidak ingin ada peperangan lagi yang menimpa anak atau cucunya.

Lahir dari keluarga sederhana, William Saputra hanya sempat mengenyam pendidikan SD. “Waktu itu ingin rasanya bisa melanjutkan sekolah seperti teman-teman. Sayangnya kondisi ekonomi saat itu tidak memungkinkan,” ujar William Saputra  yang dijumpai  di Desa Jayamulya, Indramayu.

Kini kegiatan sehari-hari  William Saputra bersama teman-temannya  menjadi  tenaga sukarelawan,  membantu masyarakat menyeberangi rel Kereta Api di Blok Cipedang Jubleg, Desa Jayamulya, Kecamatan Kroya, Indramayu.

Rel Kereta Api di Blok Cipedang Jumbleg itu  asalnya tidak berpintu. “Sekarang sudah berpintu. Walaupun pintunya darurat karena dibikin secara sukarela,” ujarnya. Justru karena aktifitas sehari-hari sebagai  tenaga sukarela itulah, William Saputra jadi terkenal.

Ia menjadi sosok pemuda yang sudah berjuang sekuat tenaga, membantu menyelamatkan ribuan nyawa dari kecelakaan KA. Walaupun pada akhirnya,  Tahdan, 43 warga Desa Renjeng, Kecamatan Losarang, Indramayu, pengendara  Daihatsu Terios Nopol E 1826 RA  bersama 6 anggota keluarganya itu meninggal dunia akibat tertabrak Kereta Api Jayabaya,  relasi Pasar Senen – Malang pada Sabtu (29/6/2019).

Ingatkan Pengemudi
Dikemukakan, beberapa saat sebelum kejadian naas itu, sudah berupaya mengingatkan pengemudi,   agar tak menerobos pintu perlintasan. Namun katanya pengemudi mobil itu memaksa menerobos setelah melihat ada sebuah sepeda motor berlawanan arah menerobos.

Sayangnya  sesampai di tengah Rel KA, mesin mobil mendadak mati.  Melihat hal itu, William Saputra bersama rekan-rekan berlari  dan spontan mendorong mobil mogok itu. Tapi mobil tidak bisa bergerak.
Langkah berikutnya, body mobil ditepuk-tepuk,  minta agar penumpang turun karena kereta akan lewat. Para penumpang tidak ada yang turun. Pengemudi sempat turun ikut mendorong,  mobil tak bergerak. Pengemudi  mencoba menstater mobilnya lagi,   mesin tetap mati.

Akhirnya Kereta Api dari arah Jakarta makin dekat dan menabrak  Daihatsu Terios hingga terseret  beberapa meter. Peristiwa kecelakaan  lalu-lintas itu hingga kini menyisakan duka yang cukup mendalam pada William Saputra. (taryani/fs)