Thursday, 21 November 2019

Dapat Bea Siswa di Luar Negeri, Tapi kok Tak Kembali?

Minggu, 26 Februari 2012 — 17:22 WIB
Wakil Mendikbud

JAKARTA (Pos Kota) – Pemerintah menyayangkan banyak mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa di luar negeri, tidak kembali ke Tanah Air untuk mengabdi usai menyelesaikan kuliahnya.

“Ada mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia dengan biaya dari pemerintah, tapi setelah selesai tidak kembali. Malah bekerja di negara tersebut. Ini sangat memprihatinkan,” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Ir H. Musliar Kasim, MS, Minggu (26/2) saat membuka Pameran dan Seminar Pendidikan Jepang di Jakarta. Ia didampingi Richard Y. Susilo, Komisaris Pandan College International.

Menurut dia,  mahasiswa yang sudah mendapat beasiswa dari pemerintah, seyogyanya pulang lagi ke Indonesia, karena uang itu hasil pinjaman dari Bank Dunia.

Menyinggung pameran Japan Education Fair in Indonesia (JEFI) yang digelar Pandan College Indonesia, Musliar menilai sangat bagus karena bisa membuka wawasan masyarakat tentang pendidikan di Jepang.

Dalam acara yang berlangsung Minggu pagi hingga sore di Hotel Sari Pan Pacific, dan dikunjungi oleh ratusan siswa SMA dari Jabodetabek tersebut,  menampilkan pembicara Agus Suheman Suryadimulya, alumni mahasiswa Jepang yang kini dosen Unpad Bandung.

Agus menuturkan untuk sekolah di Jepang harus bisa berbahasa negari Matahari Terbit itu. “Karenanya, sebelum berangkat ke sana, harus belajar dulu bahasa Jepang, supaya bisa cepat memahami cara belajar di sana. Karena memang di sana, dominan memakai bahasa Jepang,” ujarnya.

Richard Y. Susilo, Komisaris Pandan College International, menuturkan Jepang saat ini mulai kesulitan mencari penerus bangsa, dengan menurunnya jumlah generasi muda. “Sekolah dan perguruan tinggi di Jepang mulai kekurangan murid atau mahasiswa, jika hanya mengandalkan warga negaranya,” ujarnya.

Jumlah generasi muda di Jepang makin sedikit, karena tingkat kelahiran sangat rendah. Akibatnya banyak sekolah kekurangan pelajar. Bahkan ada sekolah yang sudah berdiri sangat lama terpaksa tutup karena pelajarnya tidak ada.

Menurut Richard, Jepang sekarang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masuknya pelajar asing. Untuk memudahkan belajar di Jepang, universitas di Jepang  membuka wacana baru belajar menggunakan Bahasa Inggris.

Dia menuturkan belajar di Jepang memberikan banyak kelebihan, dibandingkan dengan belajar di Amerika Serikat atau Eropa. “Ilmu dan teknologi yang sangat maju, sudah menjadi jaminan untuk belajar di Jepang. 86.000 masyarakat Indonesia kini belajar di negata itu. Dan hamper semua lulusan Jepang, bekerja di perusahaan bonafid,” ungkapnya. (aby/dms)

FOTO: 
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Ir H. Musliar Kasim, MS (kanan), memberi keterangan pers soal kenyamanan bersekolah di Jepang didampingi Richard Y. Susilo (kiri), Komisaris Pandan College International,  Minggu (26/2) di Jakarta. (aby)