Friday, 06 December 2019

Diusut, Bayi yang Meninggal Karena Ditolak Rumah Sakit

Rabu, 29 Februari 2012 — 16:26 WIB
RSUD Bekasi

BEKASI (Pos Kota) – Dinas Kesehatan Kota Bekasi segera telusuri kasus meninggalnya Keanu Febrian, bayi yang ditolak RSIA Bela di Bekasi Timur. Pasalnya, pihak RSIA Bela membantah bahwa bayi tersebut tidak pernah dibawa ke rumah sakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi  Anne Chandrani mengungkapkan pihaknya sudah menanyakan ke RSIA Bela. “Jawaban dari pihak rumah sakit menyatakan bayi tersebut tidak pernah dibawa ke rumah sakit itu, jadi bagaimana mereka menanganinya,” katanya, Rabu (29/2).

Anne mengatakan pihak rumah sakit hanya kedatangan orang yang  menanyakan apakah ada tempau untuk ICU bayi dan berapa biayanya. “Setelah dijelaskan, ternyata tidak ada bayi yang dimaksud. Jadi untuk sementara keterangan dari RSIA Bela hanya itu saja,” paparnya.

Namun, Dinkes Kota Bekasi juga sudah turunkan pihak Puskesmas untuk mengecek kebenaran soal meninggalnya bayi tersebut ke rumah orangtuanya. “Sampai sekarang kami masih mencari alamatnya, kalau wartawan ada yang tahu, mohon berikan ke saya untuk ditelusuri sehingga kedua belah pihak bisa kami tanyai,” katanya.

Dinkes Kota Bekasi sendiri menurut Anne, bukan sebatas mengurusi soal penolakan karena kasusnya belum jelas. “Untuk kedepannya kami tangani apa penyebab penyakitnya sehingga meninggal,” lanjut Anne lagi.

Sebelumnya bayi pasangan Mirta Adinata,31, dan Siti Khodijah, 32, warga  Perumahan Bekasi Jaya Indah (BJI) Kampung Crewet Jalan Melur 1 Blok F 40 RT 03/ RW 14 Kelurahan Duren Jaya Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi, meninggal lantaran RSIA Bela menolak. perawatannya karena tidak ada uang.

Almarhum Keanu yang lahir secara casar di RS Sentosa Durenjaya, Bekasi Timur pada Rabu (22/2), meninggal pada sekitar pukul 10.00 WIB pada Jumat (24/2). Sebelumny sempat disarankan dirujuk oleh pihak rumah sakit, karena menderita kelainan pada jantung dan paru-parunya.

Mirta, orangtua korban berinisiatif datang ke RSIA Bela. “Saya pas datang langsung dintanya-tanya tentang riwayat anak saya. Setelah itu rumah sakit langsung menyarankan saya untuk bayar uang muka sebesar Rp7 juta sampai Rp10 juta,” katanya.

Selain itu Mirta juga diwajibkan membayar uang menginap untuk perawatan perharinya sebesar Rp 2 juta. “Itu semua belum termasuk biaya obat dan perawatan anak saya,” lanjutnya. Namun, mungkin karena penampilan sang ayah yang tidak meyakinkan tiba-tiba pihak rumah sakit mengatakan bahwa semua ruang rawat inap untuk bayi sudah penuh.

“Saya sempat ngemis-ngemis ke rumah sakit, saya janji saya bayar asal anak saya ditolong. Tapi tetap saja dia menolak,” sesal Mirta. (Dieni/dms)

  • SUPRAT

    KAMI YAKIN YANG MENOLAK MENOLONG BAYI ITU AKAN DIAZAB TUHAN DNG AZAB YANG SANGAT PEDIH.

  • Hakimarahman91

    Anggaran bantuan kesehatan untuk keluarga tidak mampu sdh dialokasi pada apbd setiap daerah, seharusnya tidak ada penolakan terhadap keluarga tidak mampu (sktm)…perlu di CEK untuk rumah sakit swasta….apakah ada kesulitan dalam mencairkan dana sktm dari Pemkot / pemkab…setempat….beberapa KASUS rumah sakit mempersulit / menolak PASIEN SKTM….kasus di PEMKOT Surabaya…sebanyak Rp. 5 milyar tagihan FASILITAS SKTM…ditunggak oleh PEMKOT Surabaya….sehingga menyulitkan rumah sakit…karena menganggu anggaran operasional…