Friday, 18 October 2019

Melongok Pesantren Waria di Yogyakarta

Senin, 19 Maret 2012 — 1:16 WIB
Pesantren waria

YOGYAKARTA –  Sejak tahun 2008 lalu sebuah pesantren untuk kelompok waria berdiri di kota Yogyakarta.

Berbeda dengan pesantren pada umumnya, pesantren waria tidak mengharuskan anggota peserta didiknya untuk tinggal di pesantren yang terletak di Notoyudan, Yogyakarta.

Kegaiatannya juga berlangsung hanya setiap Minggu sore hingga tengah malam.

Pendiri pesantren ini, Maryani mengatakan awalnya mereka melakukan kegiatan setiap hari Senin dan Kamis namun akibat kesibukan anggotanya kini kegiatan mereka hanya dilakukukan setiap satu kali dalam sepekan.

Maryani menceritakan salah satu alasan pendirian pesantren ini adalah menyediakan tempat untuk belajar beribadah bagi kelompok waria.

“Waria ini kan juga manusia dan perlu beribadah oleh karena itu saya dulu dengan Kyai Amrori Harun membuka pesantren khusus untuk waria, kalau di pesantren lain kan tidak boleh waria berada di sana,” kata Maryani kepada wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho.

Maryani bersyukur sejak berdiri empat tahun silam dia dan teman-temannya tidak pernah mengalami tekanan dan tindakan kekerasan yang menghalangi kegiatannya.

“Tidak ada tekanan sama sekali meskipun ada sebagian yang mengatakan kami haram namun saya tidak peduli, diterima tidaknya ibadah saya itu hanya Allah yang tahu”

Menurut Maryani jumlah anggota pesantrennya memang turun naik, saat ini ada sekitar 25 waria yang aktif mengikuti kegiatan di pesantren ini.

“Saya mengajak teman-teman yang belum berani masuk saya tidak bisa memaksa kalau mau datang ya oke kalau tidak ya tidak apa-apa.”

Sejumlah waria yang terlibat dalam kegiatan di pesantren waria punya beragam pendapat soal manfaat kegiatan di tempat tersebut.

Maryani berharap pesantren waria bisa menjadi tempat belajar agama bagi kelompok waria.

Santi,  salah satu waria yang terlibat dalam kegiatan di pesantren ini sejak empat tahun lalu mengatakan dia kini merasa kehidupan rohaninya lebih baik

“Secara pribadi saya merasa lebih tenang saya juga bisa menerangkan kepada rekan waria lain kalau waria itu merupakan anugerah Tuhan dan bukan karena kita memiliki kelainan,” kata Sinta.

“Di sini saya juga belajar soal ayat dan terjemahan serta tafsirnya yang menyangkut keberadaan waria dan transgender.”

Sinta menjelaskan keberadaan mereka juga banyak diapresiasi oleh sejumlah tokoh agama Islam di kota Yogyakarta.

“Meski secara kelembagaan mereka memang tidak mengakui keberadaan pesantren ini tapi secara personal mereka mendukung kami.”

DUKUNGAN TOKOH AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI) cabang Yogyakarta juga mengatakan sejak awal berdirinya pesanteren tersebut mereka tidak pernah mempermasalahkannya.

“Itu usaha yang baik untuk memberikan pengajaran agama kepada mereka kalau tidak ada pesantren itu kan mereka tidak akan belajar agama dan mengetahui kedudukan mereka dalam agama oleh karena itu MUI menyetujui keberadaan mereka,” kata Ketua MUI Yogyakarta, Thoha Abdurrahman.

“Harapan saya mereka bisa tahu benar soal Islam baik menyeluruh maupun untuk mereka.”

Thoha mengatakan di mata Islam mereka juga punya hak yang sama untuk beribadah dan berbuat kebaikan.  “Sejauh ini memang tidak ada aksi pelarangan dari ormas manapun terhadap kegiatan mereka di sini,” jelasnya.

Meski mendapat dukungan cukup bagus dari masyarakat, namun Maryani menolak untuk mendirikan pesantren dengan konsep serupa di luar Yogyakarta.

“Saya pernah ditawari untuk mendirikan pesantren ini di sebuah daerah tapi saya tidak mau karena reaksi masyarakat di daerah itu belum tentu sama dengan di Yogyakarta.”

Dia juga mengatakan untuk mempertahankan pesantren ini bukanlah perkara mudah sejumlah kendala seperti biaya dan konsistensi para anggotanya untuk terlibat dalam kegiatan di pesantren ini adalah beberapa diantaranya.

Sejumlah waria berharap mereka bisa mendapatkan perlindungan sama dengan warga lainnya termasuk dalam hal beribadah. (bbc/dms)