Wednesday, 16 October 2019

Jelang BBM Naik, Petani Enggan Jual Gabah

Rabu, 28 Maret 2012 — 14:22 WIB
gabah-sub

SURABAYA (Pos Kota)-Kini para petani mulai banyak yang pintar. Mereka enggan menjual gabah hasil panennya, sebelum harga bahan bakar minyak (BBM) itu naik mulai per 1 April 2012 mendatang.

Para petani yang enggan menjual gabah hasil panennya itu terlihat di wilayah Kecamatan Sarirejo, Tikung,Mantup dan lainya. Mereka memilih menimbun gabahnya dengan harapan harganya bisa naik seiring dengan kenaikan harga BBM.

”Kalau dijual sekarang rugi pak. Sebab, biaya produksinya mahal. Sementara, harga BBM mau naik. Jadi, nanggung kalau dijual sekarang. Mending menunggu beberapa hari lagi, karena BBM mau  naik,” tutur Ladri, petani yang juga tengkulak warga Desa Dermolemahbang Sarirejo,Rabu (28/3).

Hal senada juga diungkap Rifai, petani asal Tikung. Menurut dia, rugi kalau hasil panen saat ini dijual sebelum harga BBM naik. Menurut dia, langkah ini dilakukan petani karena hasil panen ada juga yang terserang hama tikus dan wereng.

Menurut keterangan, harga gabah basah lansung dari petani Rp 350.000 per kwintalnya. Sedangkan untuk harga gabah keringnya Rp 450.000  per kwintal. Harga tersebut masih dinilai jauh untuk bisa menutupi produksi selama musim panen padi.

Karena itu, untuk tahun ini, para petani tidak langsung menjual hasil panennya. Para petani lebih suka menahan dulu untuk sementara, menunggu harga BBM naik. Sehingga, harga gabah juga naik.

(nurqomar/sir)