Wednesday, 16 October 2019

Ribuan Nelayan Muara Angke Masih Paceklik

Rabu, 4 April 2012 — 0:27 WIB
ilusnelayan

PENJARINGAN (Pos Kota) –Ribuan nelayan di Muara angke, Penjaringan dan Cilincing, Jakarta Utara sebagian tidak bisa melaut. Ini karena cuara masih buruk dan gelombang besar masih menghantui nelayan .

Hal itu diungkapkan Ketua Nelayan Jakarta Muhammad Aulia atau yang biasa disapa Eem. Menurutnya, saat ini ribuan nelayan tidak melaut karena cuara buruk dan gelombang besar. “Memang musim seperti banyak nelayan yang tak berani melaut karena cuaca buruk. Jika adapun mungkin hanya kapal-kapal besar itupun khusus penangkap ikan cumi,”terangnya.

Diakui Eem, kondisi seperti ini sudah terjadi sejak empat bulan lalu sehingga ratusan nelayan terpaksa pulang kampung. Nelayan yang saat ini berada di Muara Angke, Cilincing dan wilayah lain di Jakarta itu sebagian besar beradal dari daerah Indramayu, Pemalang, Brebes dan wilayah lainnya. Biasanya mereka di kampung halamannya juga sebagai nelayan.

“Empat bulan bagi nelayan di Jakarta adalah musim paceklik. Ini dikarenakan saat ini cuaca kurang bersahabat dan gelombang besar sehingga banyak nelayan yang pulang kampung dan berlayar disana. Ini dilakukan karena jika di Jakarta gelombang besar di disana tidak,”terang Een.

Een juga menjelaskan, nelayan Muara Angke dan Cilincing, ada saja yang nekat melaut, itupun biasanya yang memiliki kapal besar sehingga tidak terlalu beresiko saat berlayar. Kalaupun ada mungkin jumlahnya hanya sekitar 100 kapal dan khusus menangkap ikan cumi, sedangkan kalau ikan lainnya biasanya tidak berani. Sedangkan untuk penyediaan ikan laut selama ini di pelelangan Muara Angke dikiriman dari luar daerah seperti Brebes,Indramayu, Tegal, Pemalang dan wilayah lain

Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Sudrajat, Ketua Nalayan Cilincing, Jakarta Utara. Menurutnya, memang saat ini banyak nelayan di Cilincing tidak melaut. Meski begitu ada sebagian yang nekat berlayar demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari. “Ada saya yang nekat melaut, tapi sebagian besar juga nelayan juga sudah pada pulang ke kampung halamannya dan mencari ikan disana,”terangnya.

Supangat, 40, salah seorang nelayan asal Tegal, Jawa Tengah, mengaku terpaksa memberanikan diri melaut demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Saya biasanya sehari sebelumnya berangkat bersama kawan-kawan untuk melaut. Dari hasil itulah kami jual dan keuntungan lumayan,” jelas bapak 3 anak tersebut.

Diakui oleh Supangat, pada saat malaut memang dirinya ada rasa was-was. Tapi karena dorongan kebutuhan yang harus dipenuhi terpaksa ia lakukan. Meski begitu dirinya tetap bersyukur biar cuaca buruk, tapi sampai saat ini tidak pernah mengalami kendala apa-apa.

Memang pernah dirinya dan kawan-kawannya terobang ambing di tengah laut. “Jika saya tidak melaut, kami sekeluarga mau makan apaan. Alhamdulillah meski sempat terobang ambing kami dan kawan-kawan selamat dari bencana itu,”terang pria yang mengaku sudah puluhan tahun menjadi nelayan di Cilincing. (wandi/b)