Monday, 21 October 2019

Masalah Kita Bersama

Selasa, 10 April 2012 — 9:53 WIB

“MAAF ya saya tak bisa datang waktu  kau hajatan menikahkan anak,” kata seorang laki-laki yang baru datang ketika saya bersama seorang kawan sedang santai duduk minum teh di sebuah kafe di kawasan Kelapa Gading.
“Oh, tak apa-apa. Aku tahu, kebanjiran kan?” tanya Amir, kawan saya itu.
“Ya, kok kau tahu?” jawab kawan Amir itu.

“Tivi dan koran kan ramai memberitakannya. Oh, ya, kenalkan ini kawanku,” kata Amir. Saya lalu bersalaman dengan laki-laki  yang menyebut namanya, Musa. Ia tinggal di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Akibat hujan dan banjir kiriman dari Bogor, beberapa hari daerahnya kebanjiran.

“Banjir itu katanya karena dangkalnya Kali Pesanggrahan, Angke dan Sunter. Pemerintah sudah siapkan dana Rp2,3 trilun. Tahun ini  kali Pesanggrahan dilebarkan menjadi 30 sampai 40 meter. Kali Angke dilebarkan jadi 27 sampai 30 meter. Begitu juga kali Sunter,” kata saya.

“Wah, kalau begitu begitu  nantinya Jakarta  enggak banjir lagi,” kata Musa.
“Diperkirakan tahun 2014 bisa selesai, artinya  enggak sampai tiga tahun,”kata saya.
“Lho, ada yang bilang, tiga tahun Jakarta bebas banjir?” tanya Amir.
“Tak tahu saya, yang jelas Pemerintah Pusat dan Pemprov DKI sudah akan mulai mengeruk dan melebarkan tiga kali tersebut, “ kata saya.

“Sekarang, warga yang kebanjiran perlu ditolong misalnya dengan perahu karet. Kan bisa saja perahu karet yang ada di wilayah lain seperti Jakarta Utara, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat yang tak kebanjirani  dipinjamkan ke daerah yang kebanjiran. Kalau perlu misalnya, dipinjamkan membantu warga di daerah Tangerang yang juga kebanjiran,” jawab Amir.

“Memang bagusnya begitu,” kata Musa. Pembicaraan kami terhenti karena saya ingat ada janji dengan isteri mau ke Muara Angke. Ia ingin ke sana sambil cari ikan. Saya tinggalkan mereka yang meneruskan obrolannya.

Saya rasa tentu Pemprov DKI juga tidak berpikir terkotak-kotak. Kalau satu wilayah kebanjiran, maka walikota wilayah lain  akan  membantu perlengkapan banjir seperti perahu karet yang diperlukan wilayah yang kebanjiran itu. Banjir adalah masalah kita bersama. Termasuk para bakal calon gubernur.  Tentu mereka paham betul, naif sekali  kalau musibah warga yang kebanjiran sampai dijadikan ajang mencari simpati warga.

(lubis1209@gmail.com)*