Wednesday, 23 October 2019

Bunuh Diri Bukanlah Solusi

Kamis, 12 April 2012 — 15:25 WIB

BUNUH diri tampaknya mulai menjadi role model bagi sebagian warga masyarakat. Repotnya lagi, bunuh diri diprediksi akan terus meningkat seiring dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Meski belum dapat dirinci adanya korelasi antara  meningkatnya bunuh diri dengan membengkaknya angka kemiskinan, tetapi himpitan ekonomi menjadi pemicu utama kasus bunuh diri di Indonesia.

Dalam banyak kasus, bunuh diri dilakukan karena dianggap tak ada jalan lain bagaimana membiayai keluarganya, menyekolahkan anak- anaknya.Ketimbang menyaksikan istri dan anaknya sengsara tiada tara, sementara jalan keluar bagaikan fatamorgana belaka karena sulit mewujudkannya, maka jalan pintas jadilah tumpuannya.

Di wilayah Jabodetabek angka bunuh diri cukup tinggi. Pada tahun 2011 telah tejadi 142 kasus bunuh diri di Jakarta. Terbanyak dengan cara gantung diri sebanyak 82 kasus, selebihnya di antaranya dengan meminum racun dan lompat dari gedung bertingkat.
Yang perlu diwaspadai, jika pelaku bunuh diri sudah menjalar ke kalangan remaja (usia muda).

Mengamati sejumlah kasus, pelaku bunuh diri di kalangan remaja lebih karena tidak mampu mengatasi persoalan pribadinya seperti masalah cinta, tersisih dari pergaulan dan perasaan malu.

Kalau pun terdapat problem ekonomi keluarga hanyalah pemicu awal yang berimbas kepada suasana hati – perasaan, sehingga mengambil jalan pintas.

Intinya keinginan yang tercapai, tidak mampu menyelesaikan masalah akhirnya memilih bunuh diri untuk melepaskan semua beban dan masalah. Ini sebuah pilihan yang tidak tepat. Sebab, dengan bunuh diri malah menimbulkan persoalan baru bagi keluarga yang ditinggalkan, termasuk orang yang dicintai, jika bunuh diri atas nama cinta. Stigma semacam inilah yang harus dibangun.
Itulah sebabnya peran serta orangtua, guru (pendidik), pembimbing dan tokoh panutan sangat diperlukan untuk mendampingi anggota keluarganya yang sedang menghadapi masalah.

Di sisi lain, pemerintah wajib intervensi mencari solusi untuk menekan angka bunuh diri dengan mengatasi akar masalahnya, yakni kemiskinan.

Sebab, dalam masyarakat yang terhimpit persoalan ekonomi dan kemiskinan bisa menyebabkan daya tahan menjadi rentan. Misalnya rentan terhadap terjadinya stres, kecemasan/anxietas, perilaku menyimpang, dan masalah psikososial lainnya yang bisa berujung kepada bunuh diri.

Di sinilah pentingnya mengentaskan kemiskinan bukan lagi sekadar bagi – bagi uang. Pengentasan kemiskinan bisa dipadukan dengan upaya menyehatlan jiwa masyarakat.

(*)