Monday, 14 October 2019

Ledakan Informasi

Kamis, 12 April 2012 — 15:21 WIB

BERKALI-KALI penulis telah membahas masalah Teknologi Informasi yang begitu cepat melanda tanah air. Tiada bosan-bosan penulis membahasnya, karena memang masalah informasi berkembang terus. Dari mulai Telepon ontel sampai HP (handphone), dari mulai Telegram hingga Internet hingga SMS kini telah merubah cara hidup dan budaya rakyat Indonesia. Sebagai contoh: Kebiasaan membaca berubah menjadi budaya mendengarkan dan menonton dan visualisasi Televisi atau layar Internet.

Bermacam-macam budaya asing memasuki ruang-ruang dan kamar-kamar anak-anak remaja kita tanpa permisi, tanpa ”kulonuwun”. melalui Twiter, Facebook, Internet maupun HP, SMS, yang berisi ilmu pengetahun yang sifatnya positif maupun hal-hal yang sifatnya pornografi tanpa bisa dibendung lagi. Kebiasaan membaca Koran (media cetak) berubah menjadi elektronik baik melalui Internet, Facebook maupun SMS.

Hanya beberapa dekade saja perubahan terjadi. Misalnya tahun 1980 saat masih abad 20, begitu memasuki abad 21 telah berubah besar lewat Teknologi dan Komunikasi. Berita-berita Koran tidak dibaca lagi oleh pembacanya. Mereka lebih senang membaca Internet, Facebook, Twiter maupun di Televisi. Maka terjadilah Koran-koran terkenal di dunia banyak yang gulung tikar, kemudian juga oplah Surat Kabar menurun semua jumlahnya termasuk di Indonesia. Tidak mustahil penggunaan Internet juga mulai meningkat di tiap negara. Di Indonesia saja pelanggan dan pengguna Internet sebanyak 83 juta. Pengguna ini merupakan revolusi besar di dalam penggunaan Teknologi Telekomunikasi dan Komunikasi. Apa yang terjadi, dunia mulai bergerak dan ”dipimpin oleh informasi” dimana ”informasi menjadi panglima”.

Indonesia tidak perlu takut terhadap perkembangan Teknologi, karena Indonesia sejak tahun 1980 telah meluncurkan satelit palapa. Dan Indonesia dinilai sudah go internasional sejak dulu. Namun yang harus diwaspadai adalah Ketahanan Nasional khususnya Ketahanan Budaya kita agar tidak runtuh dan tidak jebol.
Berbeda dengan negara-negara yang tidak siap dengan perkembangan teknologi, di antaranya China. Dengan caranya sendiri telah melarang menggunakan teknologi informasi yang tidak sesuai dengan budayanya.

Pengusaha-pengusaha telekomunikasi mulai mengincar Indonesia, karena Indonesia merupakan pasar empuk dengan 200 juta penduduk. Untuk itu tidak jarang pengusaha-pengusaha yang bergerak dalam bidang teknologi telekomunikasi mengeruk keuntungan yang tidak sedikit, memanfaatkan momentum tersebut. Contoh: sekarang dari Presiden hingga petani dan pemulung menggunakan HP. Bahkan rakyat kecil di desa-desapun menggunakannya tanpa memperhitungkan untung ruginya. Yang dilihat hanya untungnya. Karena memegang HP sama dengan ”menggenggam dunia”. Tidak mustahil banyak informasi dari luar menjadi inspirasi gerakan-gerakan di dalam negeri. Sebagai contoh jatuhnya Shah Phalevi di Iran karena antara lain digerakkan oleh kaset yang disebar luaskan oleh Ayatullah Khomaeni dari luar negeri.

Oleh karena itu di Indonesia agar pengusaha-pengusaha di bidang jasa teknologi telekomunikasi dapat memilah dan memilih hal yang baik bagi bangsa dan menyingkirkan hal yang buruk bagi kepentingan negara. Dengan 83 juta pelanggan Internet merupakan titik awal dari penggunaan ilmu telekomunikasi dan informasi. Karena apa? Kalau informasi digunakan untuk hal yang baik guna mengembangkan ilmu pengetahuan, maka akan bermanfaat bagi masyarakat.

Tetapi jika informasi yang diterima oleh 83 juta pelanggan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa kita, lebih-lebih lagi jika informasi digunakan untuk ”menghasut” serta menyesatkan dan menjadi provokator. Ibarat jarum jatuh di Papua akan terdengar di Jakarta, namun ”gebrakan meja” di Jakarta oleh pemimpin-pemimpin, juga akan terdengar cepat di Papua. Betul kata orang-orang tua kita ”dunia makin kecil” seperti sebesar ”daun kelor”.*