Wednesday, 16 October 2019

Pembatasan BBM Bersubsidi Bagi Pemilik Mobil Pribadi

Jumat, 13 April 2012 — 8:35 WIB

PEMERINTAH kembali mewacanakan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi, setelah harga premium batal naik mulai 1 April lalu. Kali ini ada rencana pembatasan BBM bersubsidi diberlakukan kepada pemilik mobil pribadi di atas 1.500 cc. Belum jelas, apakah akan dirinci juga mengenai tahun pembuatan.

Dengan pembatasan ini berarti pemilik kendaraan pribadi di atas 1.500 cc dilarang menggunakan premium. Dengan kata lain, mereka akan menggunakan pertamax atau bahan bakar sejenisnya yang dikelola swasta.

Sementara kepada pemilik sepeda motor dan angkutan umum tidak terkena pembatasan. Mereka boleh menggunakan BBM bersubsidi alias premium.

Dua tahun lalu pernah diwacanakan pembatas BBM bersubsidi dikenakan kepada mobil pribadi di atas 2.000 cc.

Wacana pembatasan premium bagi pemilik mobil CC tinggi dinilai positif, ketimbang diberlakukan kepada sepeda motor. Asumsinya kendaraan CC tinggi lebih boros bensin, ketimbang kendaraan CC kecil, apalagi sepeda motor.

Pertimbangan lain, pemilik kendaraan CC tinggi diasumsikan dari kelompok berpenghasilan lebih dari cukup.

Jika tujuan pembatasan premium untuk menahan meroketnya subsidi BBM, pola ini dinilai cukup tepat, ketimbang membatasi premium sepeda motor.

Jika mobil di Jakarta saat ini sekitar 2,5 juta unit dan setiap mobil memakai 10 liter, maka sehari menghabiskan 25 juta liter premium.

Secara ekonomis mobil lebih boros menggunakan premium dibandingkan dengan sepeda motor, meski jumlahnya mencapai dua kali lipat, sekitar 5 juta di DKI Jakarta. Sebab, rata- rata sepeda motor setiap harinya menghabiskan  premium sekitar 1 liter atau 5 juta liter untuk 5 juta unit.Hanya seperlimanya.

Pembatasan premium bagi kendaraan pribadi, semestinya tidak sebatas kendaraan yang ber CC tinggi. Mobil keluaran baru pun pantas menjadi sasaran pembatasan.

Ini bisa dilakukan melalui kerjasama dengan para produsen otomotif dengan memberikan rekomendasi penggunaan bensin tanpa timbal alias sejenis pertamax, meski mobil tersebut CC nya  hanya 1.500. Boleh juga melalui klasifikasi harga jual di atas Rp200 juta.

Jika rekomendasi dapat dipertanggungjawabkan karena membuat mobil lebih terawat, awet  dan tidak cepat rusak, tentunya akan mendorong pemilik mobil menggunakan BBM non subsidi.

Dengan begitu pembatasan BBM bersubsidi akan berlangsung secara alami, tidak perlu kebijakan yang pada akhirnya hanya menimbulkan kontroversi.

Tidak kalah pentingnya mengatur mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan pembatasan BBM  bersubsidi. (*)