Wednesday, 23 October 2019

Menanti Wajah Baru Koalisi

Sabtu, 14 April 2012 — 11:09 WIB

PUSING menghadapi anggota koalisi yang tak bisa dipegang, tampaknya Partai Demokrat mulai memasang jerat baru bagi partai-partai lapis kedua. Demokrat mulai serius memberi warna baru koalisi dengan meminang Partai Hanura dan Gerindra.

Tahap awal koalisi wajah baru makin mendekati kenyataan ketika para petinggi partai-partai itu berangkulan di markas fraksi Partai Demokrat Lantai 9 Gedung Nusantara I Senayan. Pasukan Demokrat sangat lengkap, mulai dari Ketua Umum Anas Urbaningrum, Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyono dan Sekretaris Setgab, Syarif Hassan.

Sejumlah patinggi partai yang hendak dipinang pun ada di antara mereka. Dari Partai Hanura antara lain ada anggota Fraksi Hanura yang selama ini dikenal sangat vokal dan kritis terhadap pemerintahan SBY, Akbar Faisal. Selain itu juga para petinggi fraksinya. Demikian juga para petinggi Gerindra. Bahkan, Wakil Ketua Umumnya Fadli Zon tampak dalam pertemuan.

Dan hasilnya, pada gebrakan pertamanya dapat dilihat saat paripurna pengambilan keputusan terhadap RUU Pemilu. Gerindra, Hanura dan Demokrat berada dalam satu perahu. Mereka satu suara.

Meski demikian fraksi Hanura maupun Gerindra tidak mau terburu-buru. Saat disodorkan draf kesepakatan sebagai bagian dari koalisi, konon, mereka belum mau teken. Alasannya, langkah ini masih dalam batas kesepakatan pada RUU Pemilu, belum kepada yang lainnya.

Akbar Faisal mengakui ada pembicaraan mengenai koalisi yang ditawarkan oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum dan Sekretaris Setgab Syarif Hasan.

Wakil Sekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan pun menyadari ada benang merah yang lebih mudah menyatukan antara Demokrat, Hanura dan Gerindra dalam ikatan koalisi dibandingkan beberapa partai yang kini sudah di koalisi. Hal ini boleh jadi disadari bahwa pendiri dari partai-partai mereka memiliki garis emosional yang sama-sama dibesarkan di Lembah Tidar. Namun, dalam koalisi ada pertimbangan lain, yakni kompensasi politik bagi masing – masing partai untuk target di pemerintahan maupun pemilu mendatang. Yang pasti makin gemuk anggota koalisi kian menguntungkan bagi partai pendukung utama pemerintah, setidaknya stabilitas politik. Pilihan akhir perlu tidaknya wajah koalisi akan lebih tergantung kepada Demokrat. (*)