Tuesday, 10 December 2019

Masukan Buat Damai Indonesiaku

Kamis, 14 Juni 2012 — 10:02 WIB

PERKEMBANGAN dakwah Islamiah melalui Media, baik cetak maupun elektronika ternyata semakin cepat dan berkembang. Tidak saja dakwah Islam, tetapi juga Kristen, Katolik, Hindu dan Budha yang makin pesat. Tentu yang banyak porsinya adalah dakwah Islam, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Setiap hari dari mulai selesai subuh banyak dakwah Islam dipancarkan melalui TV dan Radio.

Misalnya: di Televisi Republik Indonesia (TVRI) disiarkan dakwah dan lomba pembacaan Al-qur’an, ANTV dengan Ustad Yusuf Mansur-nya, dilanjutkan dengan Mama Dedeh. Trans TV dengan Ustadz Maulana. Dan demikian juga RCTI, SCTV, Metro TV dan yang  lainnya menampilkan berbagai dakwah yang isinya adalah mengajarkan nilai-nilai agama untuk mengajak orang berbuat baik dan melarang orang berbuat jahat.

Dari sekian tayangan dakwah, menurut hemat kami yang menjadi primadona adalah tayangan ”Damai Indonesiaku” yang diselenggarakan oleh TV One, dengan menampilkan Ustadz-Ustadz terkenal. Misalnya K.H. Hasyim Muzadi, K.H. Anwar Sanusi, Ustadz Sumarmo Syafe’i, Ustadz Syarif Rahmat, Ustadz Nur Muhammad Iskandar SQ, Ustadz Ali dan lain-lainnya. Topik yang dibahas adalah masalah-masalah aktual baik masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya dikaitkan dengan nilai-nilai agama.

Kritik-kritik dilontarkan dengan tajam dan mengenai sasarannya. Penayangan adalah hari Sabtu dan Minggu jam satu sampai dengan jam tiga siang. Disenangi oleh penonton, karena segmen audensinya yang berbeda-beda dan menampilkan berbagai Masjid di Jawa maupun di luar Jawa. Selingan lagu-lagunya juga ditampilkan dengan Islam Indonesia. Sebagaimana dulu para Sunan Wali Songo menampilkan ”Santi suara Islam” ketika menampilkan kendang, terbang, kenong, dan bonang. Ada baiknya jika dikemas secara lebih luas lagi.

Misalnya: Jam tayangnya ditambah karena penonton televisi rasanya haus dengan siraman rohani, mungkin diperpanjang sampai dengan jam 4 sore. Sehingga penampilan dua atau tiga orang Ustadz dapat leluasa. Tidak seperti sekarang, penampilan cepat selesai dan penonton terasa masih haus akan nilai-nilai siraman rohani.

Sekedar masukan, ada baiknya siaran Damai Indonesiaku dikaitkan dengan aktualita yang ada. Misalnya: Banyak umat Islam yang belum mengetahui tentang bagaimana cara di bulan Rojab atau Ruwah melakukan ziarah kubur ke makam para leluhur. Para Ustadz memberi ”tuntunan” bagi mereka yang perlu menambah ilmu dengan cara-cara dakwah yang populer dan dapat di cerna secara lugu.

Hal ini sekedar masukan, juga misalnya ”tuntunan” memasuki bulan puasa atau menjelang lebaran, dan lain-lain ”event” yang berhubungan dengan acara-acara umat Islam, karena banyak pembaca Kopi Pagi yang mengusulkan hal ini kepada penulis. Dalam hal ini penulis sekedar menyampaikan kepada redaksi Damai Indonesiaku. Boleh dibaca-boleh tidak, namun masukan ini sekedar menyambung pikiran-pikiran para penonton siaran Damai Indonesiaku.