Sunday, 15 December 2019

Melarang Obortus

Senin, 18 Juni 2012 — 9:30 WIB

ABORTUS kata lain dari aborsi atau menggugurkan kandungan. Aparat kepolisian, kemarin, kembali berhasil menggerebek praktek yang melanggar hukum itu di Jl. Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Ada dua kategori aborsi. Pertama, abortus natural atau terjadi secara alami. Kedua abortus provocatus atau buatan terdiri dari abortus provocatus criminalis dan abortus provocatus medicinalis. Mengingat sifatnya, Kementerian Kesehatan melarang abortus provocatus criminalis karena bagian dari kejahatan. Pelaku berdasarkan UU No. 23/1992, diancam hukuman 15 tahun penjara.

Menggugurkan kandungan hanya dapat dilegalkan bila untuk keselamatan jiwa ibu yang mengandung. Kewenangan memutuskannya, hanya oleh tim dokter. Jadi tidak boleh sembarangan.

Kita masih ingat nama Kompol Theresia Mastail, ketika menjadi Kapolsek Johar Baru, akhir Februari 2009 menyamar sambil menyelinap ke tempat aborsi di Jl. Precetakan Negara. Setelah dirinya yakin terjadi pelanggaran hukum, dikerahkanlah anak buah untuk menggerebek.

Sepekan kemudian,  wanita kapolsek satu ini, copot dari jabatannya. Ia dipindah-tugaskan menjadi penyidik di Mapolda Metro Jaya yang kedudukannya berada dua tingkat lebih rendah. Bagi kita kasus pencopotan Kompol Thersia sampai hari ini misteri tersendiri.

Kita mengetahui kawasan Raden Saleh sejak akhir tahun 1970-an sudah terkenal sebagai tempat aborsi seiring dengan gencarnya upaya menyukseskan Program Keluarga Berencana. Pemerintah kala itu memberi mandat kepada Klinik Raden Saleh untuk menangani kegagalan penggunaan alat kontrasepsi. Janin muda dirontokkan oleh dokter melalui metode induksi haid.

Perkembangannya, layanan aborsi menjamur di mana-mana. Ada oknum dokter membuka praktek di sekitar Raden Saleh yang terpisahkan dari tempat dan legalitasnya. Sejumlah pihak nonmedis mendompleng kesohoran Jl. Raden Saleh memberi layanan. Satu tempat praktek dalam  rentang waktu setahun menangani  hingga 1.000 kasus.

Hubungan seks di luar nikah penyebab utamanya. Ahli Seksologi Dr Boyke Dian Nugraha memprediksi setahun sekitar 3 juta kasus terjadi di Indonesia. Pelakunya, 50 persen melibatkan remaja hamil akibat ‘kecelakaan’.
Fenomena aborsi di kenal di China sejak tahun 2700 SM. Bangsa-bangsa yang hidup pada zaman purba atau sekitar 1.500 SM di jazirah Timur Tengah, telah menyepakati larangan aborsi. Prinsip dasarnya adalah manusia tak berhak menghilangkan nyawa sesama.

Bangsa kita juga telah memutuskan bahwa aborsi adalah perbuatan jahat kecuali keputusan tim dokter untuk menyelamatkan jiwa ibu yang mengandung. Atas dasar itu kita mengacungkan jempol kepada aparat yang menggerebek praktek aborsi di Jl. Raden Saleh.

Jangan pula pimpinan mereka dicopot dari jabatannya. Ini penting kita tegaskan demi kepastian hukum, sekaligus menjaga keutuhan nilai-nilai sosial-relegius dari gempuran skulerisme atau hidup yang tak kenal kehidupan setelah mati. ***