Sunday, 08 December 2019

Anak Murid Kebingungan

Segel Sekolah, Ahli Waris Dilaporkan Kepsek ke Polisi

Selasa, 19 Juni 2012 — 17:30 WIB
Sekolah disegel. (ikustrasi)

Sekolah disegel. (ikustrasi)

DEPOK (Pos Kota) – Kasus sengketa dengan ahli waris terhadap bangunan SD Leuwinanggung 1 disegel oleh ahli waris lahan, sehingga ratusan murid terlantar dan terpaksa belajar di kediaman warga.

Sebanyak 285 siswa SD Leuwinanggung 1, secara darurat terpaksa belajar di rumah warga RT 03/02 milik Rosi. “Kami dikasih waktu oleh pemilik rumah hanya lima hari saja, dimulai hari ini sampai penerimaan raport pada sabtu minggu depan. Walaupun sifatnya dadakan kami tetap bersyukur masih dikasih tempat untuk menampung meski sebentar,”Ujar Kepala Sekolah SD Leuwinanggung 1, Hj. Oneng Nengsih saat membuat laporan ahli waris keluarga H. Kasim ke Polresta Depok.

Oneng menjelaskan sebelum menumpang di kediaman Rosi, ada sekolah lain yang bersedia menampung anak didiknya. “Sebelumnya siswa menempati Madrasah Ibtidaiyah Al Ikhlas, karena tidak bertahan lama masalahnya lokasinya dekat dengan jalan raya, khawatir dengan keselamatan anak-anak,” katanya

Berdasarkan pantauan Pos Lota , kediaman Rosi yang berjarak 500 meter dari sekolah sebelumnya terlihat hijau dan asri. Halaman rumah yang luas ditanami berbagai pohon sehingga tampak sejuk. Di lokasi itu juga terdapat arena bermain. “Ekpresi wajah anak-anak sangat berbeda pada Senin (18/6), ketika tidak dapat belajar karena sekolahannya disegel. Namun kali ini mereka terlihat senang dan nyaman dengan lokasi belajar barunya,” tambah Oneng.

Informasi yang berhasil dihimpun Pos Kota, Senin (18/6) kemarin, ahli waris menggembok gerbang pintu sekolah pukul 13.30 WIB. “Merasa tidak bisa masuk sekolah karena digembok, anak-anak pada pagi harinya sudah berkumpul bersama orang tua menangis dan bingung harus sekolah dimana. Mereka nggak sabar dan marah-marah ke saya meminta untuk segera meninggalkan sekolah,” ungkapnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Kecamatan Tapos, Djunaedi Chandra mengatakan secepatnya pihaknya akan mengusahakan mencari solusi tempat belajar siswa.

“Masalah ini jangan sampai mengganggu psikologi anak-anak. Kami nggak bisa menghalangi tuntutan mereka. Para ahli waris ini hanya tidak sabar, sebenarnya masalah ini sedang dalam proses. Jika mereka akan mengadu ke pengadilan tidak apa-apa. Silahkan saja,” tandas Djunaedi.

Sebelumnya, sejumlah ahli waris atas nama keluarga Kasim mengklaim tanah seluas 1 hektare yang berada di wilayah empat sekolah yakni SD Leuwinanggung 1, SD Leuwinanggung 2, SD Leuwinanggung 3 dan SD Cempedak adalah milik keluarga Kasim. Namun selama puluhan tahun, ganti rugi atas tanah tidak juga digantikan pemda Depok

Kapolresta Depok, Kombes Pol Mulyadi Kaharni mengatakan Kepala Sekolah SD Leuwinanggung 1 sudah membuat laporan terkait tindakan tidak menyenangkan terhadap keluarga ahli warga.

Menurut Mulyadi, dari informasi yang diperoleh bahwa sengketa tanah sudah dimulai dari tahun 1986. Sedangkan SD tersebut sudah dibangun pada tahun 1976. “Kita akan mengusahakan untuk dilakukan mediasai antara kedua belah pihak,”ujarnya.

Ketua Komisi D DPRD Kota Depok, Sri Rahayu Purwatiningsih sudah mendatangi rumah Rosi yang digunakan siswa untuk belajar. Selain itu orang tua siswa juga merasa keberatan dengan tindakan penyegelan sekolah oleh keluarga H. Kasim.

“Kami meminta UPT dan kelurahan sementara untuk segera mencarikan tempat untuk anak-anak di Madrasah terdekat. Sedangkan untuk penerimaan peserta didik baru dilakukan di kantor kelurahan,”katanya. (Angga)

Teks : Siswa SD Leuwinanggung, Jalan Kramat, sedih melihat gedung sekolahnya digembok oleh ahli waris. (Angga)