Tuesday, 10 December 2019

Kota Kerak Telur

Kamis, 21 Juni 2012 — 15:08 WIB

RATUSAN penjual Kerak Telur berada di luar PRJ, tidak bisa berjualan di dalam PRJ. Mengapa? Karena di dalam harus bayar ijin mahal sekali, ”boro-boro buat ijin Pak, keuntungan berjualan Kerak Telur saja belum bisa buat hidup.”

Demikianlah kisah penjual Kerak Telur. Mereka berdagang Kerak Telur juga ada Cukongnya, hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Betawi lebih terpinggirkan lagi.

Jualan di luar saja dikenakan ”ijin liar” dan dipalak oleh kelompok-kelompok tertentu yang tidak resmi. ”Kasihan oh kasihan”, kata orang Betawi. Padahal mereka di tanah Betawi, tanah kelahiran dan leluhur mereka. Salah seorang penjual Kerak Telur bilang ”yang mengelola PRJ itu kan bukan orang Betawi Pak, para pendatang semua” dimana keadilan Pak?” Penulis bilang ”jangan rasialis!”.

”Tidak Pak, ini tidak rasialis, ini fakta Pak. Kami dulu tinggal di Menteng dan daerah Kuningan Pak, sekarang tergusur ke Tangerang, Depok dan Bekasi. Apa ini adil Pak?” Penulis tanya ”sekarang berani ngomong ya?” ”Iyalah Pak, ini kan Zaman Reformasi, mengeluarkan uneg-uneg boleh dong Pak.”

Dilihat dari segi wisata kuliner, Kerak Telur memang khas makanan Betawi, sama dengan Nasi Ulam, Nasi Uduk, Soto Betawi dan lain-lainnya. Harga Kerak Telur berkisar Rp12.500,-, tetapi mereka hanya menjalankan dagang dan hanya untung sedikit, yang untung Cukong-Cukongnya. Itulah sebabnya deretan para penjual Kerak Telur hanya terlihat setahun sekali, ketika ada PRJ saja.

Mudah-mudahan hal ini terus dikembangkan pada Event-Event lain. Jangan-jangan kalau dibiarkan, tidak ada lagi orang Betawi yang membuat Kerak Telur. Yang membuat Kerak Telur adalah orang Malaysia dan diklaim sebagai makanan/kuliner dari Malaysia. Sama dengan Klepon, dibikin oleh orang Malaysia dengan nama “Buah Malaka”. Hal ini adalah P.R. bagi pengamat kuliner.

Ada baiknya Pemda DKI-Jaya berpikir ulang. Jika di Jogja terkenal dengan Gudegnya, Surabaya terkenal dengan Rujak Cingurnya dan lain-lain daerah. Tidak ada salahnya jika Pemda DKI menyelamatkan makanan kuliner Betawi dengan mengharuskan setiap restaurant menyajikan masakan-masakan khas Betawi. Seperti Kerak Telur dan lain-lainnya.

Jika perlu Kota Betawi ditambah dengan julukan ”K.K.T. (Kota Kerak Telur)”. Mumpung gubernurnya orang Betawi, Pak Fauzi Bowo (meskipun hal ini bukan aji mumpung). Karena Fauzi juga merupakan anak Betawi, untuk melaksanakan ide tersebut dan membuat Tim khusus guna merancang dan menggali masakan Betawi yang enak-enak.

Dalam rangka merayakan Ulang Tahun Jakarta semoga Pemda dan masyarakat menghormati dan memasyarakatkan budaya Betawi, termasuk bidang kuliner.